Pengikut

Sabtu, 02 Mei 2015

Sejarah Bestala




Bestala sebuah desa indah di daerah Bali Utara tepatnya di Kecamatan Seririt. Desa Asri dengan pemandangan yang masih alami dan hijau. Selain alamnya yang masih Asri, Bestala juga masih memegang teguh adat dan Budaya Bali dalam konsep ajaran Agama Hindu. Tri Hita Karana adalah salah satu ajaran yang tetap dipegang teguh oleh penduduk warga desa ini. Parahyangan atau menjaga hubungan baik dengan Tuhan atau Sang Hyang Widhi Wasa. Pawongan atau menjaga hubungan baik dengan sesame mahluk ciptaan Tuhan. Palemahan adalah menjaga hubungan baik dengan alam. Tak salah jika rahmat dari Tuhan berupa ketentraman dan keajegan desa serta hasil bumi berupa buah-buahan masih berlimpah di Desa kecil ini.
Suasana hijau di kelilingi sawah, perkebunan buah-buahan, palawija dan gemericik mata air alami di tengah-tengah desa, menjadi pemandangan langka buat para wisatawan yang datang berkunjung. Ditambah dengan kemegahan pura khayangan tiga yang tertata rapi di pinggir sungai Mendaum yang jernih.
Namun tak terlepas dari indah dan asrinya desa ini tentu ada sejarah yang tak bisa dilupakan. Ini tulisan di buat untuk dokumentasi dan bahan pengetahuan untuk anak-cucu khususnya yang berasal desa Bestala. Terlepas benar atau tidak cerita ini, hal ini akan menjadi awal mereka mengenal dari mana asal-usul tempat mereka ini. sehingga tertanam rasa memiliki dan mencintai daerah tempat tinggalnya hingga nanti.
Setelah melakukan wawancara dengan salah satu penua dari Desa Bestala, akhirnya diketahui jika orang bestala khususnya warga Pasek adalah keturunan dari Klungkung.
Konon ada 9 warga klungkung salah satunya adalah arya Damar yang diutus oleh raja klungkung untuk mengantar 8 warga klungkung untuk mencari tempat untuk kehidupan. Sampailah mereka di Naga Loka, mereka semua tersesat, karena itu mereka membuat kesepakatan yaitu setuju akan membuat pelinggih pura sebanyak jumlah mereka sekarang. Kemudian Arya Damar beserta delapan warga pasek itu memohon kepada Dewa dan munculah Dewa dan bersabda “ Berjalanlah ke arah Selatan Timur sampai melihat cahaya yang terang” . maka berangkatlah Sembilan warga Pasek itu sesuai dengan petunjuk dewata. Sampailah mereka di sebuah tempat yang terang yang penuh cahaya dan mereka bertemu dengan Sri Mpu Sangging penguasa daerah tersebut. Maka diberinamalah tempat itu Nabastala. Kata Nabastala pun diketahui artinya dari kata Nabas= galang, Tala= tempat atau daerah. Selanjutnya sejalan dengan waktu tempat itu bernama Bestala.
Sembilan warga itu berembung untuk membangun desa. Diambilah daerah dihulu desa dan pura Dalem. Kemudian Dewata meanugerahkan keris sebagai dasar pembuatan Pura dan air suci yaitu Tirta dewa Yadnya ( mengening), Manusa Yadhya ( Biji) and Pitra Yadnya ( Demong). Mata Air ini sampai saat ini masih mengalir dan digunakan oleh warga desa Bestala khususnya untuk kehibupan sehari-hari, pertanian dan perkebunan, bahkan warga desa tetangga pun ikut menikmatinya. 


Suatu hari salah satu dari mereka meninggal dan mereka merasa aneh membawa jenasah kea rah hulu. Maka Setra pun pindah ke hilir desa. Mereka pun membangun Pura Dalem di sana di dekat aliran sungai Mendaum. Karena tidak boleh memiliki Pura Dalem lebih dari satu maka Pura yang ada di Hulu di pindah ke Hilir. Setiap ada Pujawali dilakukan uapacara pemendakan.  (To Be continued)

Jumat, 08 Agustus 2014

Di Balik Layar

 Bukan hal baru buatku menemukan orang – orang bersaing meraih posisi dan kesuksesan dangan cara apapun. Hal ini sering aku dengar dari ibuku, teman – teman dan juga tetangga. Wah jadi curcolku kelebihan nih, tapi itu bukan tidak bermanfaat. Ada pepatah yang mengatakan belajar dari pengalaman itu bagus sekali, tapi akan lebih bagus lagi kalau itu pengalaman orang lain. Cerita tentang mahasiswa atau karyawan yang harus berdebat dimeja kerja demi mempertahankan pendapat atau posisi atau preman yang mempertahankan kekuasaan itu pasti wajar tapi yang tidak wajar adalah jika pelakunya adalah nenek yang umurnya sudah 80 tahun keatas.
Siang itu, aku dan temanku sedikit tersesat mencari alamat tempat tes untuk mencari pekerjaan besoknya. Tapi entah kenapa aku mengambil arah yang salah dan aku terus berjalan. Hingga akhirnya aku dipersimpangan jalan dan ingin bertanya. Tampak ada nenek berpakaian lusuh duduk dipinggir jalan. Aku dan temanku mencari tempat agar teduh untuk melihat alamat kembali. Tiba – tiba nenek itu berteriak dan marah – marah pada seorang laki – laki yang berdiri tidak jauh dibelakangku. Karena kaget aku dan temanku menoleh. Sempat aku dengar jika nenek itu mengumpat seorang sopir mobil APVwarna hitam yang ingin perkir di persimpangan jalan itu, agak kedalam sih jadi cocok untuk tempat parkir sebenarnya. Nenek itu protes kepada pemuda tadi yang mengambil uang parkir dari sopir, karena wilayah/tanah itu ada dibawah kekuasaannya. Tampak pemuda itu memberikan uang pada nenek itu, baru nenek itu berhenti marah. Saat beliau sedang marah dan memaki kearah pemuda tadi aku lihat cincin emas melingkar ditangannya. Wah, wah.. hebat banget. Nenek- nenek juga masih punya wilayah kekuasaan rupanya. Akhirnya aku bertanya pada satpam yang tak jauh dari tempat itu juga. Ternyata benar kita salah arah.
Sore itu juga aku ngajar didaerah Jakarta pusat. Agak jauh kedalam dan satu – satunya kendaraan yang paling cepat aku dapatkan dan murah adalah P20 jurusan senen-lebak bulus. Sudah sedikit gelap jadi aku harus buru – buru naik. Tak jauh dari sana ada seorang nenek naik lengkap dengan sebuah tas besar, sebuah bungkusan plastik bening dan sebuah bungkusan plastik putih jadi totalnya 3 barang besar belum tas kecil yang selalu dipundaknya. Wah hebat banget nih nenek, tapi kenapa tidak naik taksi atau angkutan yang lebih manusiawi lagi untuk seorang nenek tua seperti nenek ini. Oleh kondektur nenek itu duduk disebelahku tepat dibelakang supir, tapi beda kursi denganku, dibelakang supir sudah ada ibu muda berjilbab yang tampaknya tidak nyaman dengan kehadiran nenek. Bagaimana bisa nyaman coba, barang yang banyak itu ditaruh nenek tepat didepannya dan nenek juga tertidur sambil menempelkan kepalanya dibahu si ibu. Suasana bis kota yang memang selalu pengap itu ditambah dengan macet dan kehadiran nenek yang mendesaknya terus pasti lama – lama tidak kuat. Beberapa kali aku lihat nenek dengan ibu muda itu berbeda pendapat dan ibu muda berusaha untuk keluar dari desakan si nenek. Hingga akhirnya dengan berbagai cara dan dibawah tekanan tak mampu bernafas, akhirnya si Ibu muda ingin keluar dari tempat duduknya. Nenek yang tak mau tas atau barang – barang terlangkahi apalagi terinjak kaki berusaha menahan ibu muda seeprti membuat jalan, agar tak melawati. Sayangnya si Ibu muda tidak tahu atau karena memang sebel, beliau berjalan dan melangkahi tas nenek, nenek yang kesal karena merasa tersolimi langsung mengumpat dan memaki – maki Ibu Muda dari tempat duduknya. Orang yang paling dekat kena marah dan kaget adalah aku dan Pak Supir. Aku tak menyangka nenek akan semarah dan seganas itu. Wah, sepanjang perjalanan hingga aku turun dari bis kota itu nenek masih kesal dan berbicara sendiri mengarah ke Ibu muda yang kini masih duduk di depanku.

Sungguh nenek-nenek ini luar biasa. Mereka mengingatkan aku pada kakek dan nenekku yang luarbiasa di rumahku. Yang tak pernah henti memberikan dukungan dan nasehat indahnya. Kakekku, bukanlah orang yang senang di masa kecilnya. menurut cerita nenek aku, Beliau, anak yatim piatu, bapaknya meninggal ketika kecil dan ibunya menikah lagi beberap waktu kemudian. Kakekku dan kedua adik laki- lakinya tinggal bersama bibinya yang sangat cerewet dan kejam. Mereka harus menumbuk padi orang lain agar mendapatkan upah beras. Tak pernah punya waktu bermain dan selalu bekerja apapun itu untuk menyambung hidup. Memang pada masa itu hidup sangat sulit, ditambah lagi dengan kondisi keluarganya yang demikian. Walaupun demikian pengalaman berdagang yang digelutinya dari kecil membuat kakekku pintar sekali menghitung. Beliau dan Nenekku adalah dua cinta sejati yang hebat dalam matematika. Mereka punya rumus tertentu yang menyelesaikan masalah matematika seperti perkalian sebelah, duapuluh lima dan persentange, penjumlah, perkalian, pembagian dan pengurangan sudah di luar kepala. Mereka hebat walaupun nenekku tak lulus sekolah dasar dan kakekku lulus sekolah rakyat. Merekalah yang mengenalkan padaku indahnya matematika dari masalah kehidupan sehari-hari. Jika kakek nenekku yang sangat peduli dengan pendidikan berbeda dengan Bapakku dan ibuku yang pelit, sampai dengan uang buat beli buku pun susah ku dapatkan
Setiap anak atau remaja orang tua yang paling di sayang adalah bapak atau ibu. Kalau aku sedikit berbeda. Karena aku lebih menyayangi Kakek dan nenekku dari pada orang tuaku. Aku sayang Bapak dan juga Ibuku sebagai orang yang telah melahirkan dan membesarku. Tapi orang yang lebih memaknai hidupku adalah kedua orang tua ayahku ini. Sebagai anak pertama dari empat bersaudara kedua orang tuaku tak mudah untuk mendidikku satu persatu apalagi memenuhi kebutuhan sekolahku. Bapakku seorang petani kecil yang perhasilannya tak begitu besar. Aku tak bisa meminta sesuatu yang benar – benar aku inginkan kepada orang tuaku. Karena jika aku membeli seperti baju baru atau sepatu baru, adikku yang lain juga pasti akan merengek – rengek ingin dibelikan. Begitu juga sebaliknya, aku belum mengerti dan belum paham arti bergiliran dan mengalah. Karena aku tak mau mengalah juga ibu kadang memarahiku bahkan mencubitku hingga biru. Suatu hari aku minta dibelikan buku, kalau baju aku tak dbelikan itu tak masalah masih ada baju yang lain. Tapi jika urusan sekolah aku tak bisa menundanya. Aku hanya menangis karena ibu dan Bapak tak mungkin mengabulkannya. Karena tak tahan mendengar aku menangis terus ibuku yang sedikit ringan tangan melemparku dengan apa saja yang ada didekatnya. 



Itu sudah biasa, apalagi jika aku terlambat atau lupa mengerjakan pekerjaan rumah seperti menyapu atau mengambil air yang tempatnya lumanyan jauh, atau membuang sampah sembarangan aku akan kena jewer atau marahnya. Saat ini, itu adalah hal biasa karena memang dasarnya saja aku anak yang sedikit aktif dan tidak suka tidur siang jadi main terus hingga lupa mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi waktu itu, saat aku belum tahu arti disiplin dan tanggung jawab tugas dan kewajiban adalah hal yang paling menyiksa. Aku tak mengerti kenapa teman – temanku bisa bebas bermain tanpa pernah dimarahi ataupun dicubit yang membuat pantat atau tanganku sakit. Aku paling tak suka tugas menjaga adik, karena itu akan membatasi gerakan aku untuk bermain dengan teman – temanku. Saat itu umurku baru 8-9 tahun. Jadi sekitar kelas 4 atau 5 Sekolah Dasar. Aku ingin sekali dibelikan buku bahasa Bali. Tapi Bapak tak kunjung membelikannya, padahal semua tugas membaca aksara Bali belum aku buat karena menunggu buku yang akan dibelikan Bapak. Aku menuruti dan mengerjakan apa yang ditugaskan Ibu di rumah seperti menjaga adik, menyapu, mencuci dan mengambil air. Tumben aku tak kena marah urusan itu, hanya karena aku ingin buku itu demi pelajaran Bahasa Baliku yang jelek terus karena aku tak punya buku.
Bagaimana aku bisa terima nilai aku yang lain antara 80 samapi 90 tapi Bahasa Bali dapat 70, aku orang Bali kenapa dapetnya segitu. Teman – teman yang lain pada punya buku yang dibelikan orang mereka masing – masing, mereka belajar dan bisa menjawab soal ulangan dengan baik. Tapi aku, membaca aksara Bali saja masih tersendat apalagi bisa menjawab pertanyaannya. Padahal dari segi logika, aku lebih tahu jawabannya dari pada teman – temanku. Terbukti saat satu kali aku ulangan menggunakan tulisan latin, nilaiku 100. Tapi begitu aksara Bali, nilaiku mulai jatuh dan sulit untuk naik lagi dalam kondisi tak punya buku. Itulah alasan aku memaksa Bapak membelikan Buku. Bapak memang beda, aku pun diajak Bapak langsung ke toko yang letaknya lumayan jauh dari rumah. Saat tiba di toko buku yang tak begitu besar dan imut itu, aku senang sekali. Andai aku punya banyak uang pasti aku beli semua buku – buku yang aku butuhkan saat itu juga. Ditambah dengan beberapa majalah, buku cerita, novel dan buku pelajaran lainnya. Wah, aku langsung gila buku, posisiku saat ini seperti si pungguk merindukan bulan. Aku sudah cukup senang dan bahagia buku Bahasa Bali yang aku butuhkan aku dapatkan.

Perbedaan pendapat dengan Ibu yang tidak selamanya berjalan lancar. Tujuan Ibu melakukan itu adalah untuk mendidikku. Kalau tidak, mungkin sekarang aku menjadi orang manja dan kerjanya hanya minta uang tanpa mau berusaha. Terima Kasih Ibu dan Bapak yang telah membuatku lebih memaknai hidup. Kakek dan Nenekku yang membuatku tak pernah patah semangat walaupun badai menimpaku dan menghalangi jalanku mengingat kalian membuatku bangkit dan terus maju. Keluargakulah yang ada di balik aku saat ini.

Senin, 22 Juli 2013

Seberapa Pancasilakah Anda?



Seperti yang kita ketahui Pancasila merupakan ideologi bangsa Indonesia yang dibentuk oleh para pendiri bangsa Indonesia pada tahun 1945. Lahirnya Pancasila pada tahun 1945 tidak terlepas dari perdebatan dan perbedaan pendapat dari para pendiri bangsa Indonesia. Hal itu terjadi karena para pendiri bangsa Indonesia menginginkan ideologi bangsa yang benar – benar sesuai dengan jiwa bangsa Indonesia. Salah satunya mempertimbangkan keberagaman dan kemajemukan budaya dari setiap daerah yang dimiliki bangsa Indonesia. Seperti pada sila pertama Pancasila yang awalnya “Ketuhanan yang maha esa dan kewajiban menjalankan syarikat islam bagi pemeluk - pemeluknya”. Namun hal ini menjadi perdebatan karena hal ini akan mematikan perkembangan agama lain selain Islam yang juga bagian dari bangsa Indonesia.
Kemudian pada rapat PPKI tanggal 18 Agustus 1945 terdapat usulan menghilangkan kalimat “kewajiban menjalankan syarikat islam bagi pemeluk – pemeluknya” sehingga sila pertama menjadi “Ketuhanan yang maha esa”. Hal ini  dilakukan sebagai pertimbangan kemajemukan bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai agama. Agama Islam memang mayoritas di Indonesia saat itu, tapi di Indonesia juga ada agama selain Islam yang juga merupakan bagian dari bangsa Indonesia. Begitu banyak yang dipertimbangkan dan diperhatikan saat itu hingga terlahir Pancasila yang menjadi dasar, falsafah dan identitas bangsa Indonesia. Oleh karena itu penting bagi rakyat Indonesia menghargai dan menjalankan nilai – nilai Pancasila.
Selain itu setiap sila Pancasila yang telah disusun sedemikian rupa oleh pendiri bangsa memiliki makna tersendiri yang menjiwa kehidupan berbangsa dan bernegara bangsa Indonesia. Setiap sila yang tersusun juga saling berkaitan dengan sila yang lainnya. Misalnya sila pertama Pancasila yang juga berhubungan dengan sila kemanusian yang beradab dan sila persatuan Indonesia. Indonesia yang beragam harus dapat bersatu dan selalu mempertikan nilai – nilai kemanusian dan ajaran agama yang anut oleh masing – masing penduduk. Demikian juga sila keempat, untuk dapat menciptakan pemerintahan demokratis harus diikuti dengan keinginan untuk mewujudkan keadilan bagi seluruh Indonesia seperti yang ada pada sila kelima. Indonesia merupakan negara beragam yang membutuhkan dasar dan landasan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesuai dengan kemajemukannya itu. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa Pancasila merupakan landasan yang sesuai dengan jiwa kehidupan bangsa Indonesia saat ini.
Seperti yang dituliskan oleh Astuti (2012) sila Ketuhanan yang maha esa yang bermakna bahwa bangsa Indonesia percaya dengan mengakui adanya satu Tuhan. Sehingga sebagai umat beragama, bangsa Indonesia harus taat dan menjalankan ajaran agama yang diyakininya. Selain itu juga menghargai dan menghormati agama atau keyakinan orang lain. Namun dalam pelaksaannya saat ini banyak terjadi konflik atas nama agama yang mengganggu keamanan dan membuat resah masyarakat. Hal ini terjadi karena lemahnya pamahaman masyarakat tentang agamanya sendiri dan juga pemahaman tentang makna Pancasila itu sendiri. Belum lagi isu munculnya aliran sesat yang belakangan mewarnai kehidupan beragama di Indonesia. Sebagai bangsa Indonesia yang percaya dengan adanya satu Tuhan seharusnya tetap pada pendirian dengan menjalankan ajaran agama yang diyakini dan menghormati agama orang lain yang berbeda dengan kita tanpa harus berpikir bahwa keyakinan orang lain itu salah dan keyakinan ini yang benar.
Selama saya menjadi warga Negara Indonesia saya percaya dan menjalankan ajaran agama Hindu dan saya berinteraksi dengan teman saya yang juga berbeda agama. Saya tidak mempermasalahkan seperti apa teman saya menjalankan ajaran agamanya. Saya berusaha untuk menghormati dan menghargai agama yang mereka anut. Saya ikut juga merayakan lebaran, natal, paska, imlek dan waisak sebagai rasa hormat saya terhadap teman – teman dan keluarga saya yang merayakan. Saya merayakannya dengan berkunjung ke rumah teman yang sedang berhari raya atau ikut acara bertukar kado yang sering di lakukan di kampus. Tak hanya saat hari raya besar tapi juga setiap hari, saat kegiatan latihan paduan suara atau diskusi atau rapat sedang berlangsung, tiba saat sholat maka kita istirahat sebentar untuk memberikan kesempatan kepada teman yang ingin beribadah. Dari hal itu saya sering berpikir alangkah indah keberagaman dalam perdamaian dan saya bersyukur dilahirkan di Indonesia.
Hal yang sama juga disampaikan Astuti (2012) untuk sila kemanusian yang adil dan beradab yang bermakna bahwa bangsa Indonesia menempatkan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya  yang sama di depan hukum. Hal ini sesuai dengan sifat universal bahwa kemanusian dimiliki oleh semua bangsa yang juga harus diterapkan di Indonesia. Persamaan di depan hukum berarti bahwa semua warga negara tidak memandang status sosialnya, tetap memiliki hak yang sama di depan hukum. Namun berbeda dengan kasus kecelakaan yang dialami oleh anak Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Muh. Rasyid yang menewaskan dua penumpang dan tiga lainnya luka – luka, namun sayangnya kasus ini berakhir dengan perdamaian (kompas, 2013). Walaupun pihak korban mendapat santunan dari keluarga Hatta Rajasa, tapi kenapa Rasyid tidak diproses secara hukum yang berlaku di Indonesia. Apakah karena uang, pihak penegak hukum tidak dapat memproses kasus ini? hal inilah yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan sila kedua Pancasila ini.
Masih banyak lagi nilai kemanusian yang terabaikan di negeri ini, seperti anak usia sekolah seharusnya belajar di sekolah dan bermain dengan teman sebayanya tapi harus mengamen atau mengasong di lampu merah dan tempat umum. Tidak jarang kita dengar kabar berita seorang ibu yang mengalami depresi akibat kesulitan ekonomi, kemudian bunuh diri setelah membunuh anak kandunganya juga. Hal ini menunjukkan bahwa kesejahteraan sosial yang belum terjamin menyebabkan hilangnya rasa kemanusian yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia.
Dalam membantu dari segi kemanusian juga perlu diperhatikan. Sering saya lihat orang – orang memberikan bantuan berupa materi seperti uang dan bahan pokok. Tapi menurut saya itu hanya bersifat sementara dan cepat habis. Bahkan itu membuat masyarakat terbiasa menerima bantuan dan tidak mau berusaha sendiri. Mereka tak merasa malu jika mendapat bantuan dari orang lain dan seolah – olah itu adalah hak mereka sebagai pihak yang membutuhkan bantuan. Memberikan bantuan itu tidak dilarang dan sangat mulia, tapi akan lebih baik hal itu juga diikuti dengan pemberian soft skill yang juga bermanfaat bagi masyarakat kurang mampu. Sama dengan yang saya alami selama menjadi relawan mengajar di salah satu sekolah alternative untuk anak jalanan di Cempaka Emas. Suatu hari perkampungan anak jalanan tempat saya mengajar kebakaran. Banyak bantuan makanan, bahan bangunan, pakaian dan perabotan rumah tangga lainnya berdatangan. Saya pun ikut sibuk membaginya dan masyarakat korban kebakaran berebut untuk mendapatkannya. Besoknya saya dan teman – teman ke tempat itu lagi untuk mengajar anak – anak jalanan yang rutin diadakan di tengah tenda pengungsian. Seorang ibu bertanya kepada teman saya “ kenapa hari ini tidak ada pembagian beras atau sembako? ”, teman saya pun menjelaskan kepada ibu tersebut bahwa hari ini memang tidak ada sumbangan yang bisa dibagikan. Hal yang sama juga terjadi pada minggu berikutnya. Dari kejadian itu saya berpikir jika masyarakat tidak hanya membutuhkan beras atau sembako tapi kemampuan untuk mendapatkan sendiri bantuan materi itu. Karena jika hanya menunggu bantuan itu datang tentu tidak akan ada yang bisa terus memberikan bantuan.
Demikian pula pada sila ketiga persatuan Indonesia dituliskan oleh Astuti (2012), yang bermakna persatuan itu bulat, satu dan tidak terpecah atau jika dikaitkan dengan maknanya pada pengertian modern disebut dengan nasionalime. Keadaan Indonesia yang majemuk memang harus bersatu untuk bisa hidup berdampingan dengan berbagai perbedaan yang ada. Walaupun hal ini sudah ada dalam Pancasila, tapi masyarakat Indonesia masih sering lalai dengan hal tersebut. Hal ini dapat dilihat dari berbagai konflik antar etnis di beberapa daerah di Indonesia.
Berita kerusuhan antar etnis yang terjadi di Lampung beberapa waktu lalu adalah contoh nyata lemahnya persatuan bangsa Indonesia. Perang saudara tersebut hanya berawal dari masalah anak muda yang seharusnya bisa diselesaikan dengan jalan hukum . Tapi pecah menjadi kerusuhan selama tiga hari yang memakan puluhan korban jiwa dan luka – luka, ditambah lagi dengan ratusan rumah dan sekolah terbakar . Kerusuhan antara suku Bali dan Lampung itu berakhir dengan perjanjian damai kedua belah pihak (Kristanti, 2012). Saya tidak dapat membayangkan apa terjadi dengan saudara kita di Lampung itu. Rasa kecewa dan prihatin yang mendalam saya pernah rasakan saat mendengar berita kerusuhan Lampung. Ternyata pertikaian antar etnis masih belum habis ceritanya di tanah Nusantara ini. Oleh karena itu, penting bagi rakyat Indonesia di mana pun berada di Indonesia harus bisa saling menghormati dan bertoleransi dengan suku, agama atau ras lain yang juga saudara kita di Indonesia.
Demikian juga dengan Sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam permusyawaratan /perwakilan yang bermakna bahwa bangsa Indonesia menganut sistem demokrasi (Astuti, 2012). Namun ada satu hal yang membedakan demokrasi di Indonesia dengan Demokrasi barat yaitu pada permusyawaratan yang mengacu pada pengambilan keputusan secara bulat. Sedangkan kebijaksaan itu merupakan suatu prinsip bahwa yang diputuskan memang bermanfaat bagi kepentingan rakyat. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa makna yang paling melekat pada sila ke empat adalah nilai – nilai gotong royong dan musyawarah mufakat yang mementingkan kepentingan bersama.
Namun berbeda halnya dengan beberapa wakil rakyat yang dipilih langsung oleh rakyat yang belum bisa sepenuhnya mewujudkan apa yang diinginkan oleh rakyat. Bahkan menggunakan uang rakyat untuk kepentingan pribadi yang tentunya merugikan masyarakat itu sendiri. Seperti yang disampaikan oleh Revida (2003) korupsi adalah parasit sosial yang mengganggu pemerintahan dan penghambat pembangunan pada umumnya. Bagaimana tidak, uang yang seharusnya digunakan untuk pembangunan dan kesejahteraan rakyat habis digunakan untuk kepentingan pribadi. Hal ini tentu tidak sesuai dengan makna nilai – nilai pancasila pada sila keempat yang mengedepankan kepentingan orang banyak diatas kepentingan pribadi.
Korupsi yang sudah dilakukan oleh beberapa pejabat negara tersebut hanya sebagian dari korupsi yang sering terjadi di Indonesia. Sebenarnya efek globalisasi yang menyebabkan masyarakat cenderung lebih mementingkan kepentingan pribadi tersebut bukan hanya terjadi pada pemerintah tapi juga dalam kehidupan masyarakat Indonesia kebanyakan. Seperti yang diceritakan oleh Miss Desiree pada saat kelas Affective Education 21th Century Learning tahun lalu, beliau melakukan percobaan dengan menyebarkan jepitan rambut atau hiasan di sekitar kelas yang beliau ajar dan berharap ada yang mengembalikannya pada kotak lost and found yang ada di sekolah tersebut. Namun hasilnya tidak ada satu pun siswa di kelas tersebut yang mengembalikannya. Hal ini menjadi pekerjaan rumah yang tidak mudah bagi orang tua, guru dan saya sebagai calon guru untuk mengenalkan siswa bahaya korupsi yang berawal dari ketidakjujuran dan mengambil hak milik orang lain secara diam - diam. Ditambah lagi dengan adanya contoh korupsi yang telah dilakukan oleh pejabat neraga terdahulu. Untuk memberikan pemahaman yang lebih mudah kepada siswa tentang korupsi nantinya, perlu ditegaskan bahwa pelaku tindak korupsi harus dihukum berat. Jika tidak, hal ini akan berdampak pada jiwa generasi muda selanjutnya.
Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang bermakna kemakmuran yang merata bagi rakyat Indonesia yang dinamis dan meningkat. Adanya suatu persamaan dan saling menghargai karya orang lain Astuti (2012) . Berlaku adil terjadi apabila sesorang memberikan dan mendapatkan sesuatu seuai dengan haknya. Sila kelima inilah yang paling sulit untuk diwujudkan oleh pemerintah saat ini. Keadaan geografis Indonesia yang berbentuk kepulauan menyebabkan sulitnya memantau keadaan setiap daerah di Indonesia. Sehingga setiap kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk setiap daerah harus dilakukan secara bertahap dan tidak bisa dilakukan secara serentak.  Namun seharusnya pemerintah sudah dapat mengantisipasinya dari dulu dan hal ini bukanlah menjadi alasan utama dalam mewujudkan sila kelima ini.
Namun yang lebih terlihat tentang ketidakadilan dalam pelaksanaan pancasila, sila kelima ini adalah dalam hal pendidikan dan kesejahteraan sosial. Mengapa negara yang kaya akan kekayaan alam ini tidak mampu membiayai pendidikan yang sangat menentukan masa depan bangsa ini. Jangankan di daerah pedalaman Papua, bangunan sekolah yang rusak juga masih kita temukan di Jakarta. Banyak anak putus sekolah karena harus membantu orang tuanya bekerja. Hal ini menunjukkan bahwa kesejahteraan masyarakat masih sangat rendah dan hal ini sangat berpengaruh terhadap pendidikan anak bangsa. Tidak ada ketegasan dari pemerintah terhadap pendidikan anak putus sekolah tersebut.
Dapat kita lihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia pada tahun 2012 masih ada sekitar 10, 507 juta jiwa penduduk yang berada pada garis kemiskinan di Indonesia. Hal ini terbukti dari masih  ditemukannya pengemis dan juga anak jalanan yang tidak sekolah berkeliaran di lampu merah dan tempat umum lainnya. Permukiman kumuh dan pengangguran yang memicu kriminalitas masih banyak kita lihat di beberapa daerah di sekitarnya.
Setelah melihat seperti apa pengimplementasian Pancasila pada negeri ini, dapat saya katakana bahwa peimplemantasian tersebut masih berupa wacana yang belum terwujud pada beberapa sendi kehidupan masyarakat. Begitu juga dengan saya, sebagai warga negara saya belum maksimal dalam mengamalkan nilai – nilai Pancasila tersebut kehidupan sehari - hari. Suatu pembelajaran yang berharga saya dapatkan dari kelas Pancasila beberapa waktu lalu tentang kalau bukan kita yang peduli dengan masa depan pemerintahan bangsa ini siapa lagi. Jika semua orang pintar negeri ini memalingkan muka terhadap kondisi negeri ini, maka yang akan menjadi pemimpin bangsa ini adalah generasi mental tempe yang hanya bisa menghabiskan uang rakyat untuk dikorupsi. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memberikan kontribusi pada negeri ini sebagai anak bangsa. Kontribusi yang diberikan harus dimulai dari sekarang dan tak hanya menjadi wacana belaka.
Pengamalan nilai – nilai Pancasila memang banyak menuai masalah baik dilakukan oleh masyarakat kecil hingga pejabat negara yang seharusnya memberikan contoh. Untuk itu perlu dilakukan pemberdayaan kembali Pancasila yang merupakan dasar falsafah bangsa kita ini. Seperti yang dituliskan oleh Herdiawanto & Hamdayama, (2010) pemberdayaan Pancasila haruslah mengenalkan dan memberdayakan Pancasila sebagai manifestasi kepribadian bangsa yang sesuai dengan isi Pembukaan UUD 1945 yang dieksplorasi bersifat realitas, idealis, dan fleksibilitas. Andai apa yang menjadi tujuan para pendiri bangsa kita 68 tahun yang lalu mampu diwujudkan oleh bangsa Indonesia, mungkin kemiskinan, keterbelakangan dan konflik antar ras, suku dan agama bisa terhindar. Namun semua yang sudah terjadi bukan untuk disesali tapi harus dijadikan motivator untuk memberdayakan Pancasila kembali dalam kehidupan sehari – hari yang bisa kita mulai


Daftar Pustaka
Astuti, N. (2012). Pancasila dan piagam madinah: konsep, teori dan analis mewujudkan masyarakat madani Indonesia. Jakarta, Indonesia: Media Bangsa.
 Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia. Data jumlah masyarakat miskin di Indonesia tahun 2012 diunduh pada tanggal 9 Mei 2013 dari website: http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&id_subyek=23&notab=1
Herdiawanto, H. & Hamdayama, J. (2010). Cerdas, kristis, dan aktif berwarganegara:pendidikan kewarganegaraan untuk perguruan tinggi hlm. 31-42. Jakarta, Indonesia: Erlangga.

Kristanti, E. Y. (2012). Akhiri kerusuhan, 2 desa di Lampung sepakati 10 butir perdamaian.  Diunduh pada tanggal 9 Mei 2013 dari website: http://nasional.news.viva.co.id/news/read/364768-akhiri-kerusuhan--2-desa-di-lampung-sepakati-10-butir-perdamaian

Revide, E. (2003). Korupsi di Indonesia:masalah dan solusinya. Diunduh pada tanggal 9 Mei 2013 dari situs repository dengan website: http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3800/1/fisip-erika1.pdf

Iqbal, M. (2013). Bedakan kasus Hatta Rajasa dengan  kasus Laka Lantas yang lain. Diunduh  pada tanggal ( Mei 2013 dari situs Kompas website: http://hukum.kompasiana.com/2013/01/13/bedakan-kasus-anak-hatta-rajasa-dengan-kasus-laka-lantas-yang-lain-525025.html

Pancasila Identitas Bangsa dalam Pengaruh Globalisasi



 Keragaman suku, budaya, agama dan adat istiadat yang ada di Indonesia merupakan hal yang membuatnya unik dan berbeda dengan bangsa lain di dunia. Keistimewaan dan keunikan tersebut merupakan identitas bangsa Indonesia yang membuatnya berbeda dengan bangsa lain di dunia. Dalam bahasa Inggris identitas berasal dari kata identity yang artinya ciri, tanda atau jati diri. Sedangkan nasional adalah ciri yang melekat pada suatu kelompok yang diikat oleh persamaan fisik seperti bahasa, budaya, dan agama. Menurut Wibisono (2005) dalam Herdiawanto & Hamdayama, (2010) identitas nasional adalah manifestasi nilai budaya yang tumbuh dan berkembang dalam kehidupan suatu bangsa dengan ciri khas yang membuatnya berbeda dengan bangsa lain. Untuk Indonesia sendiri identitas nasional adalah bentuk nilai budaya yang berkembang di Indonesia dari berbagai daerah yang menjadi suatu kebudayaan nasional dengan acuan Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika.
Bangsa Indonesia yang majemuk merupakan gabungan unsur pembentuk identitas. Sejarah, agama, bahasa, suku bangsa, kebudayaan merupakan unsur pembentuk identitas (Srijanti dkk , 2009). Sedangkan menurut Herdiawanto & Hamdayama, (2010), keragaman kebudayaan dan negara kepulauan merupakan unsur identitas ilmiah yang menunjukkan betapa kompleknya Indonesia dengan Pancasila sebagai unsur identitas fundamental yang merupakan falsafah, dasar dan ideologi bangsa Indonesia. Kelima sila pancasila yang saling berkaitan membentuk suatu gambaran seperti apa kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Sila pertama yang menunjukkan bahwa bangsa Indonesia adalah negeri yang religious, menghormati dan percaya dengan adanya satu Tuhan. Hal ini mendasari sila kedua yang menunjukkan bahwa bangsa Indonesia menghormati arti kemanusian dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Kemudian terbentuknya persatuan yang kokoh diantara perbedaan dan keragaman budaya yang tercermin pada sila ketiga. Untuk membangun masyarakat yang sejahtera diperlukan pemerintahan yang bijaksana dan mengedepankan musyawarah mufakat yang diharapkan terwujud pada sila ke empat. Sedangkan sila kelima, kesejateraan yang adil dan merata bagi bagi seluruh rakyat Indonesia. Semuanya  mengandung cita – cita nasional bangsa Indonesia yang tercermin pada alinea ke 4 Pembukaan UUD 19945 yang menunjukkan bahwa bangsa Indonesia itu cinta damai, toleran dan selalu menjunjung tinggi nilai gotong royong dan musyawarah mufakat.
Pancasila, ideologi dan identitas bangsa Indonesia yang ada saat ini telah disusun oleh pendiri bangsa Indonesia berdasarkan berbagai pertimbangan yang berkaitan dengan keutuhan bangsa Indonesia yang beragam. Oleh karena itu hendaknya sebagai generasi penerus bangsa, masyarakat Indonesia bisa menghargai perjuangan tersebut dengan mengamalkan nilai – nilai pancasila dalam kehidupan sehari – hari. Dua peristiwa besar yaitu G30S/PKI dan runtuhnya Orde Baru yang terjadi beberapa tahun yang lalu merupakan ujian terbesar yang meragukan kekuatan Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia. Namun semua itu membuat bangsa Indonesia sadar jika tidak ada yang bisa menggantikan Pancasila sebagai ideologi bangsa Indonesia yang selanjutnya menjadi bagian dari identitas bangsa.
Terlepas dari peristiwa tahun 1965 dan 1998 tersebut, arus globalisasi yang masuk ke Indonesia juga mempengaruhi kehidupan masyarakat Indonesia saat ini. Dampaknya dapat kita lihat dari kasus kekerasan atas nama agama atau etnis tertentu yang sering terjadi belakangan ini. Seperti konflik antar etnis yang terjadi di Lampung antara etnis Bali dan etnis setempat. Kerusuhan yang hanya mengarah pada kepentingan satu kelompok atau satu etnis saja, hingga memakan korban jiwa dan harta benda. Padahal yang kita tahu Indonesia itu beragam dan cinta damai. Kenapa masalah yang sepertinya kecil harus diselesaikan dengan jalan membuat kerusuhan demi kepentingan satu kelompok tertentu atau individu. Ini adalah contoh masyarakat Indonesia yang sudah mulai terpengaruh budaya barat yang lebih mementingkan kepentingan individu satu golongan tanpa melihat konsekuensi yang timbul di masyarakat yang menyangkut kehidupan bersama. Budaya yang dimiliki oleh setiap daerah bukan hanya menjadi tanggung jawab etnis tertentu saja tapi milik bangsa Indonesia yang patut dijaga dan dilestarikan.
Bukan hanya itu, kasus korupsi yang dilakukan oleh pejabat pemerintah adalah contoh nyata hilangnya panutan atau teladan pemimpin bagi bangsa Indonesia. Tindakan korupsi yang dilakukan oleh pejabat Negara merupakan pelanggaran nilai identitas bangsa yang tidak bisa ditelorir karena tindakan tersebut tidak sesuai dengan nilai – nilai Pancasila yang selalu mengedepankan kepentingan rakyat banyak bukan kepentingan individu atau golongan. Rakyat Indonesia yang sudah lelah dengan berita Korupsi Kolusi dan Nepotisme (KKN) tentu merindukan pemimpin bangsa yang mampu menjalankan pemerintahan berasaskan  Pancasila yang menjadi identitas bangsa Indonesia.
Hal ini menunjukkan mulai lunturnya nilai – nilai Pancasila saat ini yang disebabkan oleh pengaruh perkembangan teknologi dan arus globalisasi. Tampak perubahan prilaku sebagian masyarakat yang mulai menyimpang dari nilai Pancasila. Paham individualist dan materialistis yang mementingkan kepentingan pribadi dan mengukur semuanya berdasarkan materi merupakan salah satu dampak negatif dari globalisasi yang bertentangan dengan budaya nasional (Herdiawanto & Hamdayama, 2010). Nilai budaya Indonesia yang lebih mementingkan kepentingan orang banyak, gotong royong dan musyawarah semakin terkikis dengan munculnya pengaruh paham tersebut. Hal ini juga dituliskan oleh Firmansyah (2011) yang mengatakan bahwa masyarakat Indonesial lebih suka menghadapi budaya luar dalam hal ini budaya barat daripada melestarikan budaya nasional.
Menurut Andre A. Ujan dkk (2009) globalisasi merupakan proses saling ketergantungan atau saling keterhubungan antar negara atau benoa yang membuat dunia seolah – olah sangat dekat dan sempit.  Hal ini menunjukkan bahwa globalisasi memberikan kesempatan kepada budaya luar (budaya bangsa lain yang berbeda dengan bangsa Indonesia) masuk dan berbaur dengan bangsa Indonesia. Masyarakat pun mendapat kesempatan untuk mengenal dan bahkan mengikuti kebiasaan luar. Budaya baru dan berbeda tersebut akan mempengaruhi perkembangan kehidupan rakyat Indonesia sendiri. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi budaya nasional. Semakin banyaknya budaya atau kebiasaan baru yang muncul menyebabkan semakin banyaknya pilihan di kalangan masyarakat sehingga budaya nasional semakin terlupakan dan ditinggalkan oleh bangsa Indonesia sendiri.
Semua berawal dari kurangnya kesadaran  rakyat Indonesia sendiri yang seharusnya merasa bangga memiliki budaya tersebut. Sibuk dengan masalah dalam negeri yang cukup komplek sehingga tidak salah tari Pendet dan Batik diakui oleh negara tetangga. Seharusnya bangsa Indonesia bisa membaca peluang dan manfaat dari globalisasi tersebut. Selain belajar tentang budaya luar, hendaknya bangsa Indonesia bisa memperkenalkan budaya yang ada ke pihak luar. Masyarakat pun harus cerdas dalam menerima budaya yang didapatkan dari pihak luar dan selektif dalam memilih dan mengikuti budaya yang diterima.
Menurut Herdiawanto & Hamdayama,(2010) untuk mempertahankan identitas nasional perlu diadakan pemberdayaan identitas nasional itu sendiri. Pembinaan atau pengembangan nilai –nilai pancasila harus ditanamkan dan diamalkan dalam setiap sendi kehidupan rakyat Indonesia atau yang dikenal dengan revitalisasi Pancasila. Revitalisasi yang dilakukan harus mengenalkan dan memberdayakan pancasila sebagai manifestasi identitas nasional yang sesuai dengan isi Pembukaan UUD 1945 yang dieksplorasi bersifat realitas, idealis, dan fleksibilitas. Realitas berarti sesuai nilai dan kondisi yang tumbuh dan berkembang dimasyarakat. Idealis berarti apa yang direncanakan harus melihat prospek ke depan yang lebih baik dan dapat dilakukan oleh bangsa Indonesia. Fleksibilitas menunjukkan bahwa pancasila bukanlah sesuatu yang tertutup atau barang jadi tapi sesuatu terus berkembang sesuai dengan kebutuhan tanpa menghilangkan nilai hakikinya. Pancasila tetap merupakan hal yang actual, relevan dan berfungsi sebagai penyangga kehidupan bangsa Indonesia.
Pendidikan merupakan salah satu revitalisasi Pancasila yang paling tepat dikembangkan salah satunya dengan penerapan pendidikan berkarakter. Menurut Firmansyah (2011) penerapan pendidikan berkarakter dan budi pekerti merupakan salah satu cara yang bisa digunakan untuk mengajak  generasi penerus bangsa sejak dini mengenal dan menjaga budaya nasional. Budi pekerti yang baik diharapkan mampu mencegah timbulnya konflik antar suku dan agama yang berbeda. Oleh karena itu sebagai calon guru yang akan mengajar siswa nantinya diharapkan paham dan dapat mengimplemantasikan pendidikan karakter kepada siswa. Tidak hanya mengajarkan materi saja tapi juga moral dan budi pekerti yang baik.
Daftar Pustaka
Firmansyah, A. (2011). Nilai pancasila dalam keanekaragaman budaya Indonesia untuk memenuhi tugas akhir. Diunduh pada tanggal 11 April 2013 dari website: http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&ved=0CDAQFjAA&url=http%3A%2F%2Fresearch.amikom.ac.id%2Findex.php%2FSSI%2Farticle%2Fdownload%2F6564%2F3944&ei=Oyd5UYqhDIfKrAfDgIGwBA&usg=AFQjCNFQD1hAK_BxbO0FlsPoS3YUiyxA4w&sig2=h1eqxl9nB9Av_HBYgQuBow&bvm=bv.45645796,d.bmk
Herdiawanto, H. & Hamdayama, J. (2010). Cerdas, kristis, dan aktif berwarganegara:pendidikan kewarganegaraan untuk perguruan tinggi hlm. 31-42. Erlangga:Jakarta,
Srijanti, dkk (2009). Pendidikan kewarganegaraan di perguruan tinggi mengembangkan etika berwarganegara, edisi 3. Salemba Empat:Jakarta
Ujan, A. A. dkk (2009). Multiculturalisme:belajar hidup bersama dalam perbedaan, hlm. 7. PT Indeks: Jakarta.

Jumat, 04 Januari 2013

Ibu Tercinta

Lihatlah aku ini
Untukmu aku memberi
Hasil

Pada Jasamu yang sangar Terpuji
Utuh dan Setia pada diri ini
Tiap hari Kau menimang tubuh ini
Upah dariku tak pernah Kau harapkan lagi

Asalkan aku bahagia
Rasa sakit dan menderita
Indah terasa di jiwa
Anakmu kini tumbuh dalam setiap tetesan air mata bahagia
Sunyi terasa tanpa Bunda tercinta
Impianmu tak kan terlupa
Harusku wujudkan dengan segenap jiwa

Dendang kasihmu yang syahdu
Alang - alang, burung bersenandung merdu
Riang bahagia dalam setiap belaianmu
Inginku ku kenang selalu

Biru haru, rasa hati
Apabila berpisah denganmu Ibu sejati
Langkah yang lemah menjadi Jati
Ingat setiap nasehatmu setulus hati

By Luh Putu Ariasih
Jakarta, 04/01/13

Selasa, 31 Juli 2012

Elementary Story


 Hari ini agak berbeda dari biasanya, aku hanya termenung di kamar sambil membaca buku tetralogi karya Pramodya Ananta Toer. Sebuah kisah kepahlawanan yang cukup luar biasa di tuliskan dalam buku ini. Bicara mengenai kepahlawanan aku teringat dengan masa kecilku ketika pertama kalinya aku masuk sekolah di salah satu sekolah dasar di desaku. SDN Bestala, sekolah terbaik di desaku yang mampu mencetak banyak dokter, bidan, polisi, tentara, hingga insinyur dan juga pengusaha. Tidak salah karena tanpa sekolahku ini orang tuaku dan juga sebagian penduduk di desaku tak kan bisa membaca atau menulis. Kenapa? Karena sampai adiku yang kedua masuk sekolah dasar belum ada taman kanak – kanak yang didirikan. Mau tidak mau guru kelas satu harus mengajar dan juga mengenalkan siswa baca dan juga menulis.
Aku beruntung masuk sekolah ini. Walau umurku hampir tujuh tahun baru kelas satu tapi tak apa aku bisa berteman dengan siapa saja. Aku harus berjalan selama 30 menit untuk bisa sampai di sekolah. Sehingga aku harus bangun jam 5 pagi untuk bersiap – siap dan berangkat ke sekolah bersama 7 orang teman – teman setiaku pukul 6 pagi. Sebuah rutinitas yang sangat kompak siapa yang sudah siap harus menunggu yang belum datang hingga jam setengah 7 agar bisa berangkat bersama. Sepanjang perjalanan kami melewati kebun dan sawah yang hijau, tak ada angkutan umum yang bisa ditumpangi atau bus sekolah yang bisa mengantar dan menjemput kami, kami hanya berjalan kaki berangkat atau pun pulang sekolah. Tidak apa kami tetap semangat ke sekolah.
Saat uang jajan habis aku sering harus buru – buru pulang karena lapar dan haus sepanjang perjalanan. Aku dan teman – teman kadang masuk kekebun warga mencari buah manggis, atau buah duku yang sudah masak hingga jatuh di bawah pohonnya. Sehingga haus dan laparku sedikit tertahan. Atau mencari sumber air di dalam kebun warga. Desaku sangat subur dan hijau, sehingga kadang aku bisa menemukan sumber air yang jernih dan segar untuk diminum. Ini adalah saat – saat yang tak bisa dibeli dimana dan kapanpun, saat ini aku sangat merindukannya.
Belajar di kelas bersama guruku yang sedikit galak menuntut aku untuk rajin belajar. Khususnya membaca dan menulis. Walaupun tulisanku seperti cakar ayam dan cara membacaku yang tidak lancar tapi kalau urusan menghitung aku tak mau ketinggalan. Saking galaknya guruku saat membentak bisa terdengar dari kelas sebelah. Pernah suatu kali aku tidak bisa mengerjakan salah satu soal matematika yang belaiu berikan. Karena lama aku berdiri di depan papan tulis beliau membentakku hingga temanku yang sedang menulis di bangkunya terkejut dan trauma hingga tanganya gemetaran. Sampai saat ini bila dia menulis tangannya selalu bergetar walaupun tak ada yang membentak. Sejak saat itu aku menjadi rajin belajar khususnya matematika.
Beruntung aku punya kakek yang jago matematika. Setiap pulang dari sawah beliau memberitahuku sebuah trik menghitung yang luar biasa. Tapi beliau tak pernah mengajariku karena ingin aku pintar, tapi karena aku yang ingin tahu. Ada – ada saja cara yang kakekku punya. Beliau sering mengatakan kalau waktu kecil gurunya suka memberitahu cara ini setiap kali mau ujian dan kakekku adalah murid kesayangan gurunya waktu kecil karena nilai matematikanya tak pernah mendapat nilai merah. Dari sana aku mendapatkan motivasi untuk terus belajar dan ingin jadi seperti kakekku. Hingga akhirnya tak salah pertama kalinya aku menerima raport satu – satunya nilai 9 yang aku dapatkan adalah nilai matematikaku. Teman – temanku yang selalu aku ajak pulang dan berangkat sekolah mulai menghargai aku sebagai adik mereka yang ternyata memiliki bibit berprestasi didalamnya. Aduh kok jadi pamer.
Teman – temanku tidak hanya teman yang dari satu arah pulang saja, ada juga teman sekelasku yang beraneka ragam dan rumahnya tak kalah jauh dari rumahku. Mereka harus berjalan sekitar 1 jam dari rumahnya untuk bisa sekolah di SD ku yang berada di tengah – tengah desa ini. Ada anak kepala desa yang biasa dipanggil Bagus, dan anak pegawai desa Teddy, anak saudagar Novi, serta yang lainya sama denganku anak petani. Setelah liburan pertama aku sekolah kami mendapat teman baru lagi anak seorag guru benama Very. Kami semua berteman dan belajar hingga lulus SD. Selama 6 tahunan banyak sekali peristiwa penting yang aku lewati. Mulai dari persaingan aku dengan temanku yang cukup strik dan menyebalkan bagi teman – temanku. Hingga persiangan mempertahankan juara kelas yang sempat tidak aku sadari saat aku duduk di kelas 3. Nilai aku turun merosot tapi aku tidak merasa tertekan sedikitpun. Malah guruku yang sangat perhatian dengaku memperingatkanku dan mengatur tempat dudukku tanpa aku ketahui.
Pertama kali masuk kelas aka nada perebutan tempat duduk. Bagaimanatidak aku sekelas dengan 15 orang temanku dari baru masuk SD hingga lulus, tentu kami sudah tahu tabiat masing – masing. Sebagai orang pintar pasti berusaha mencari teman yang baik dan asyik. Saat aku naik ke kelas 5 aku menangis tersedu – sedu karena ada temanku yang tak bertanggung jawab. Dengan seenaknya memindahkan aku ke belakang dengan temanku Surya. Surya juga tidak tahu kenapa aku dengan dia yang sudah menaruh tas di depan, tempat favoritku, tiba – tiba saat pelajaran mau dimulai tas aku dengannya ada dibelakang. Dan tempat dudukku di depan sudah ada yang menempati. Saat itu guruku sudah ada di dalam kelas dan siap belajar. Akhirnya aku pun menerima saja apa yang terjadi dan aku tak tahu kenapa harus begini. Ketua kelasku hanya mengatakan jika semuanya harus duduk ditempat yang sudah ditentukan. Aku kesal menerima keputusan itu.
Proses belajar mengajar dengan lancar, walau aku duduk dibelakang tapi aku tetap berusaha mendengarkan penjelasan guru dengan baik, sumpah alim banget aku dulu. Aku suka guru IPA dan guru matematika yang juga bertugas sebagai kepala sekolah di SDku yang hanya 10 ruangan itu. Awalnya aku tidak mengerti kenapa aku diajak keluar kelas menuju halaman sekolah. Mengambil tali panjang dan meteran untuk mengukur lapangan yang panjang dan luarnya 2 desimeter persegi. Memang ini salah satu cara yang paling mudah menunjukkan kepada siswa, selain karena mempermudah siswa memahami berapa ukuran 1 desimeter persegi juga karena satuan desimeter jarang digunakan dalam kehidupan sehari – hari. Semua itu membuatku lebih paham dengan materi itu. Guruku ini tak suka memberi PR tapi setiap hari memberikan kita latihan. Cara mengajarnya pun asyik penuh humor yang membuatku tetap melek walau membosankan. Setiap hari aku selalu menanti datang mengajar.
Saat ini aku cukup sedih karena kabar terakhirnya yang aku dengar sebulan yang lalu dari orang tuaku di Bali beliau sedang sakit keras dan sudah beberapa kali operasi. Aku tidak sempat menengok beliau. Dan lebih menyesalnya lagi kemarin aku dengar keluarga beliau mengadakan upacara pengabenan beliau. Sedikit aku seperti tidak percaya jika beliau pergi begitu cepat, tanpa sempat menungguku. Karena beliau tahu aku sedang melanjutkan kuliah di Jakarta. Selamat jalan guru terbaikku, guru yang selalu menjadi inspirasiku setiap kali aku membuat tugas kuliah tentang belajar mengajar matematika, pelajaran yang pernah ku anggap  sulit menjadi mudah jika aku belajar dengannya. Ah, sudah.. aku tidak mau bersedih karena ada atau tidak ada beliau di dunia. Beliau aku terus menginspirasiku untuk terus mengajar. Lanjut!
Selama semester ganjil aku dan semua anak kelas 4, 5 dan 6 membuat tabungan setiap bersama setiap hari 200 rupiah yang akan kita gunakan untuk acara kemah pramuka yang akan dilaksanakan di Gondol, Grokgak Buleleng Barat. Semangatnya kami kemah karena Pembina pramuka kami benar – benar semangat juga membina kami.  Setiap hari minggu kamu latihan bersama mulai dari latihan sandi, baris berbaris, morse hingga semaphore. Semangat kami ditambah lagi dengan persiaan sekolah mengikuti lomba UKS. Aku dan beberapa temanku dipercaya sebagai dokter kecil yang bertugas jaga di UKS dan menyiapkan kebun sekolah menjadi kebun yang indah penuh dengan bunga dan rapi dipagar. Kelompokku namanya kelompok Angsoka, ada lagi kelompok Anggrek, Kunyit dan Kencur. Masing – masing kelompok punya areal kebun tanaman toga sendiri yang dilombakan. Aku memang tidak begitu pintar menanam tanaman apalagi tanaman obat. Tanpa aku sadari aku sebagai ketua kelompok malah menanam bunga. Akhirnya ada juga temanku Warsiki yang pintar memelihara kebun. Dia selain menanam obat juga menanam bunga mawar dan bonsai di kebun kami.
Sekolah kami menjadi indah semenjak ada kelompok UKS ini. Kepala sekolah sangat senang dengan hasil kerja kami. Selain itu tanaman anggrek yang aku gantung di depan kelas sudah mulai berbunga. Ibu Yeti yang sangat menyukai bunga anggrek sangat senang dan meminta siswa kelas lain untuk membuat tanaman lagi.
Puncak acara semakin dekat yaitu pada saat usai penerimaan rapot semester ganjil. Aku dan teman – teman mulai membagi tugas alat – alat perkemahan. Mulai dari tikar, senter, alat masak, alat sembahyang dan sebagainya. Aku makin sibuk tapi ada saja yang menganggu pikiranku. Aku dengar dari Suryani jika ada orang yang selalu memperhatikanmu setiap kamu dipanggil ke depan kelas. Saat aku ingin kembali ke kelas tiba – tiba aku bertabrakkan dengan seseorang. Sumpah aku malu menuliskan bagian ini. Tapi apa boleh buat aku akan menulisnya sebagai proses aku mencapai dewasa.
Ternyata teman sekelasku Bagus katanya sudah pacaran dengan adik kelas. Bagus yang bisa dibilang anak paling tinggi dan cakep di kelasku sudah punya pacar. Aku sedikit tidak terima karena dia memang salah satu cowok idolaku saat itu. hehehheehe.. cinta monyet anak SD lucu juga kalau di tulis lagi. Tapi kini sudah jadi milik orang lain gimana dong. Tapi tak apa – apa dia masih bisa aku lihat di kelasku. Aku memang dekat dengannya apalagi urusan pelajaran kita selalu bersaing. Tapi bukan Asih namanya kalau aku tidak menang. Tak salah aku selalu jadi juara satu bertahan di kelas selama kelas 5 dan 6. Dia punya pacar sekarang baiklah aku akan terus bertahan.
Saat jam istirahat dia suka bercerita tentang pujaan hatinya itu. Betapa indahnya hubungan mereka. Bagus selalu menyebut Lisa dengan Sri Kamandaka dan dia  di panggil Kamandaka. Amboi.. kapan yah aku kaya gitu! Begitulah hubungan mereka kita lajutkan dengan cerita dokter kecil dan pramuka dulu.
Akhirnya Persami dilaksanakan. Kegitan pertama yang aku ikuti adalah outbond yang tak bisa aku selesaikan sampai finish karena aku sakit perut dan aku pingsan di pinggir sungai. Aku tersadar di kantor kepala desa dan betapa menyesalnya aku tak bisa ikut karena aku tak punya cerita seperti yang diceritakan oleh teman – temanku yang lain. Ayahda pembina dan kepala sekolah marah pada teman sekelompokku yang menelantarkan aku pingsan di pinggir sungai. Untung ada warga desa yang lewat dan membawaku ke klinik terdekat di Kantor Kepala desa. Semua itu berawal karena aku tak mau sarapan pagi harinya.
Sorenya di lanjutkan dengan acara Haiking yang tak kalah serunya. Aku beruntung bisa ikut setelah Ayahda Pembina memastikan kondisiku baik – baik saja. Aku kembali menyusuri padang hijau dipinggir sungai dan menyebrang sungai melalui batu – batu, melewati sawah, masuk trowongan air, mandi di air terjun, melihat yang tebalnya kabut yang menyelimuti hutan dan menghirup udara bersih dan sehat. Hingga hujan turun, aku senang sekali dan sangat menikmatinya. Semua itu sangat – sangat aku rindukan saat ini. Betapa indahnya Desaku saat itu yang membuat aku merindukannya saat ini.
Hingga sore tiba, semua teman – teman sedang asyik main di sungai tiba – tiba Ayahda pembina atau Pak Guru berteriak “ makanya hati – hati, sekarang sudah berdarah gimana dong!” kami semua berhenti dan menoleh ke arah suara. Terlihat Teddy teman kami sedang memegang lututnya berdarah kena kayu yang tejam. Teddy hanya meringis dan takut menangis karena Pak Guru sangat marah. Kami pun pulang dan Pak Guru mengendong Teddy yang tak mampu berjalan lagi. Dalam hati aku teringat kejadian tadi pagi, apakah Pak Guru akan semarah ini jika dia menemukanku tergolek tak sadarkan diri seperti itu. Hihh serem…. Sejak saat itu aku tak mau kemana – mana tanpa sarapan dulu. Aku tidak mau jatuh kaya gitu lagi.
Malam harinya ada acara api unggun. Serunya aku ikut sebagai pembawa obor dasa darma. Seperti sudah menjadi takdir dari SD sampai SMA jadi pembawa obor selalu jadi pengucap dasa Darma yang ke sepuluh “ Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan” sampai mendarah daging karena saking hafalnya. Acara itu tambah seru dengan acara games di akhir acara hingga mendekati pukul 11 malam. Kami bersiap – siap untuk acara jerit malam. Acara yang paling ditunggu –tunggu oleh Kakak kelas 6 agar bisa mengerjai aku dan anak kelas 4. Tapi kalau aku gak bakalan bisa mereka menjailiku. Dari kecil aku memang tak suka nonton film hantu jadi jika soal hantu yang dibilang seram aku memang tak percaya. Aku hanya takut dengan Tuhan dan binatang buas malam – malam. Saat giliran aku berjalan aku marasa sedikit deg – degan karena aku belum pernah ikut acara beginian. Takutnya aku tidak bisa menyelesaikan ujian mental yang diberikan oleh senior kelas 6 nanti buku SKUku pulangnya kosong dong.
 Ternyata ujian senior aneh semua dan saat ini kadang aku suka tertawa bila ingat semua itu. Berjalan sendiri di tengah malam, lari dikejar anjing dan membuat keributan di sepanjang sungai hingga warga sekitar menyiram air. Ujiannya mulai dari  menyebutkan nama – nama pahlawan atau menyanyikan lagu nasional sampai di sekolah. Belum lagi mengumpulkan bekicot sebagai obat luka atau mencari obat sakit perut sebagai perintah yang ada dalam kata sandi yang di berikan pembina. Paling seru adalah melewati trowongan monyet buatan Ayahda Pembina sampai badanku gatal semua atau mengitari batu di tengah sungai dengan hitungan hingga aku tak sempat buka sepatu, yah kecebur deh semua. setelah berkotor – kotor penuh lumpur karena kejebur di sawah atau di selokan, kita mandi di sungai. Jadi yang tidak mandi malamnya pasti tidak bisa tidur karena gatal. Menggunakan baju dengan hitungan, berkumpul dengan hitungan, bangun pagi pun dengan hitungan. Sudah mirip tentara latihan aku jika mengadakan kemah. Tapi semuanya seru dan menantang. Tak pernah aku dapatkan pengalaman ini walaupun aku sudah masuk perguruan tinggi.
Persami sudah usai, kini tinggal dokter kecil. Dokter kecil tak banyak kegitan menarik selain gantian berjaga UKS. Awalnya aku merasa tak ada gunanya kegitan jaga UKS begini hanya buang – buang waktu kan lebih baik jika seandainya aku                   buku di perpustakaan. Ternyata aku salah. Usai olahraga sabtu itu. aku buru – buru ke kelas mengambil baju ganti. Usai ganti baju aku melihat wajah Pak Guru tampak khawatir dan menanyakan jika kita semua baik – baik saja dan tak ada yang sakit. Setelah aku lihat Very juga tampak sedih. Aku bertanya pada Very ada apa? Very hanya menoleh ke tempat duduk Bagus. Ada juga teman yang bertanya padaku “ Sih, kamu tidak mau pingsan lagi kan? Kemarin  kamu waktu pingsan gimana rasanya sakit? Lama ya?” aku bingung dengan pertanyaan Suas dihadapan Very yang lagi sedih itu. “ Apa apa sih? Kalian aneh bertanya hal itu saat ini?” sahutku sambil menjauh meninggalkan mereka.
Tak lama kemudian aku lihat bapaknya Darma berlari ke ruang UKS. Ada apa di UKS, hari ini yang jaga bukan aku sih. Kelompokku setiap hari Senin dan Kamis jaganya. Tak lama kemudian terdengar teriakan dari dalam ruang UKS. Ternyata Bagus sedang kesakitan. Entah dia sadar atau tidak. Yang pasti dia terus berteriak dengan mata terpejam. Bapak – ibu guru semua dengan wajah cemas tak tertahankan. Dia kenapa, aku mulai panik. Lebih panic lagi Lisa, dia tampak bingung tak tahu harus berbuat apa. Melihat dia ada di belakangku aku pun menghindar dan kembali ke kelas. Semua teman- teman tahu dia pacarnya Bagus dan aku hanyalah butiran debu yang tak penting saat itu. Tak ada yang tahu apa yang aku rasakan saat itu antara kesal sedih dan juga kasihan bercampur dengan cemas. Tiba – tiba Suryani  mendekat “ Sudahlah, mungkin bukan waktunya saat ini Ar.. “. Aku bingung kenapa dia bertanya begitu.
Akhirnya kami pun naik ke Kelas 6. Aku makin giat belajar agar bisa mempertahankan peringkatku. Aku pun akhirnya duduk di depan lagi. Aku tunggui tempat dudukku agar tak diambil oleh siapa pun. Aku tak mau kejadian setahun yang lalu terulang lagi. Aku duduk dengan Veny, anak yang berambut kemerahan itu sebenarnya menjadi teman sejatiku sejak kelas 1 SD. Tapi baru kali ini bisa sebangku. Dia selalu dengan Julia teman dan juga tetanggaku. Baik aku Veny dan juga Julia suka belajar bareng dan kami adalah sahabat akrab. Tapi diantara mereka tak ada yang tahu apa yang aku rasakan terhadap Bagus. Sudahlah mungkin aku hanyalah cinta dalam hati yang tak pernah terbalaskan.
Aku berusaha menutupi semua perasaanku terhadap Bagus. Tapi entah kenapa Suryani seperti bisa membaca pikiranku dia tahu semuanya. Sampai aku mau mengikuti idenya menulis surat untuknya. Gila, sumpah gila banget. Yah, seperti yang kuduga Bagus memang tak pernah suka padaku, dia mengatakan semuanya  lewat surat balasan. Ehm…! Surat – suratan jaman 45 banget yah! Tapi aku mau melakukan itu bukan tak beralasan. Bagus memang suka menjailiku dan entah apa tujuannya. Kadang dia memanggil namaku hingga aku menoleh dan dia hanya mengatakan gak apa – apa, menyebalkan. Saat itu Suryani duduk di deretan bangku belakang yang sejajar denganku dari depan dan disebelahnya duduklah Bagus seorang diri. Semua yang dilakukan Bagus tentu diketahui oleh Suryani. Mulai dari pura – pura pinjam catatan sampai dengan melemparku dengan kertas yang digulung kecil – kecil. Hingga aku menoleh tapi Bagus pura – pura tidak tahu. Selama berhari – hari aku selalu diganggu oleh gulungan kertas kecil. Sampai akhirnya dia kepergok akan melempar kertas kerahku tapi tidak jadi dan dia tertawa dengan santainya. Aku kesal dan aku tak menghiraukan dia lagi sampai dia bosan.
Suryani yang melihat kejadian itu langsung ribut dan sekelas mengira aku dan Bagus ada sesuatu. Mana mungkin, Bagus kan masih ada Lisa. Aku lebih getir lagi jika Sri Kamandakanya menemuiku dengan muka marah mencabik – cabikku. ih.. serem!. Benar saja seperti perkiraanku. Lisa menemuiku tak berucap apa – apa dia langsung mendorongku dan aku pun medorong tangannya hingga terjadilah adegan dorong – dorongan . Sekilas seperti orang sedang bercanda karena Lisa masih tertawa – tawa tapi dalam hati siapa tahu. Seminggu kemudian aku dengar Bagus putus dengan Lisa. Jangan bilang karena aku, ah GR banget.
Aku baru sadar jika guru SDku benar – benar kreatif saat memberi tugas, tidak hanya PR, latihan soal, worksheet atau kerja kelompok. Tapi tugas project seperti membuat kristik dan ingka dari lidi daun kelapa untuk pelajaran kesenian. Selain itu ada tugas membuat drama dari pelajaran bahasa Indonesia. Di tambah lagi tugas membuat termos kreatif untuk pelajaran IPA. Atau IPS dengan tugasnya menggambar peta Indonesia yang membuat nilaiku tak pernah bagus kalau urusan menggambar. Tugas membuat termos kreatif aku sekelompok dengan Bagus, Julia dan Novi. Kami berempat mengerjakannya di rumah Bagus di seberang sungai. Orang tua Bagus sangat baik dan ramah. Bagus adalah anak kesayangan apapun keinginannya di selalu di penuhi. Wah, enaknya punya tivi besar dan plastation untuk main games. Kalau aku seperti ini pasti aku tak perlu main rumah – rumahan dengan Julia hingga membuat pakaian kotor. Bagus sangat senang dikunjungi teman sekelasnya, jadi ada teman yang bisa diajak nonton film kartun terbarunya. Aku dan Julia hanya terbengong melihat semua itu.
Akhir – akhir ini pelajaran agak berat, karena sebentar lagi Ujian Nasonal dan aku tak mau terdapat kesalahan. Bagus sering sekali aku lihat pingsan sampi akhirnya dia tidak ikut kegiatan pelajaran Olahraga. Ternyata Bagus sakit, entah apa nama penyakitnya aku tidak mengerti. Dia sering mengalami tantrum seperti itu hingga SMP yang masih satu kelas denganku.
Perpisahan yang sangat mengharukan aku rasakan. Aku sangat berhutang besar dengan sekolahku yang selama 6 tahun aku tempati dan menjadi rumah keduaku dengan berbagai kenangan tak hanya fisik gedung yang hanya 10 ruangan itu, Padmasana sekolah tempat sembahyang, ruang UKS, lapangan upacara, lapangan bola dan kebun tanaman obat dan bunga. Tapi juga hati guru – guruku yang benar – benar penuh kasih sayang. Bagaimana aku bisa lupa ternyata seorang guruku sangat melindungiku selama di sekolah tanpa aku sadari. Aku baru tahu saat aku usai mengikuti lomba murid teladan yang diantar oleh wali kelasku yang necis dan keren itu Pak Ambara. Salah satu guru dengan tulisan paling rapi yang pernah ku ketahui. Entah ini ada hubungannya dengan Pak Ambara atau tidak yang jelas selama dia menjadi wali kelasku tak ada henti dia menyemangatiku. Padahal ada banyak anak pintar lainnya.
Ceritanya aku dengar dari ketua kelasku Suas. Atlet tenis meja ini ternyata pindah sekolah setelah naik kelas 6 dan dia baru mengatakan semuanya saat dia liburan sekolah dan berkunjung ke Sekolahku ini. Ternyata yang memindahkan tas  aku ke belakang waktu pertama kali masuk kelas 5 tahun lalu adalah perbuatannya. Dia minta maaf karena telah berbohong padaku saat itu. Tapi semua itu atas perintah Ibu Yeti. Ada satu hal yang tak bisa ku jelaskan di sini berkaitan dengan kejujuran di kelas kecilku dengan teman – teman kecilku yang lucu.
Memang selama ini dari kelas 2 sampai kelas 4 nllai aku tidak beda jauh dengan teman – teman yang dekat denganku duduk. Menurut Ibu Yeti jika aku tetap duduk disana dekat dengan temanku itu aku tak mau menyebut namanya, nilai aku atau temanku tak kan bisa meningkat. Mungkinkah? Makdsudnya apa ini ?Aku juga bingung aku merasa selama ini aku hanya belajar dan ulangan tanpa menyontek. Aku tak pernah melanggar satu nasehat ibuku untuk tidak menyontek saat ulangan dan nilaiku hasilnya sesuai dengan harapan aku. Tapi setelah aku pindah tempat duduk ke belakang dan aku jauh dari temanku itu, aku menjadi juara Umum bertahan di sekolahku. Suas pun menjawab semua itu karena taktik Bu Yeti. Sedikit aku tak percaya, tapi masuk akal. Jadi selama ini?aku terus bertanya dan tak percaya jika guruku seperhatian begitu terhadap muridnya. Aku mulai membayangkan jika aku jadi guru. Aku juga harus memperhatikan perkembangan setiap siswa sedetail itu. sampai mengurus tempat duduknya segala walaupun bukan walinya sekalipun. Alangkah beratnya, tapi itulah yang telah dilakukan guruku padaku.
Bagaimana aku tidak menangis mengenang semua kebiakkan dan kasih sayang  ibu – bapak guruku saat perpisahan kelas 6. Suatu perhargaan masih diberikan oleh guruku padaku walaupun nilai ujian nasionalku tidak bagus amat tapi nilai raportku selalu juara satu. Nem tertinggi diraih oleh Veny teman sebangkuku dan nilaiku tetap peringkat pertama.

By
Luh Putu Ariasih
Mahasiswa Pendidikan Matematika
Jakarta, 1 Aguastus 2012