Pengikut

Selasa, 12 Januari 2016

Cinta Dalam Naungan Adat Istiadat Ep 2



Beruntung Dahlia masih bisa diselamatkan. Karena dosis masih rendah, pasti dia patah hati lagi. Inikah tujuan kita memilki seorang kekasih? Seperti orang bilang jatuh cinta itu indah, tapi satu hal yang harus kita pahami, apabila orang sudah jatuh pasti akan sulit untuk membangunnya lagi. Untung ada Rosa dia menggantikan aku untuk menjaga Lia selama aku ke Tabanan. Kakakku yang satu ini pun bernasib sama, aku harus menemuinya sebelum dia melakukan hal yang sama.
Suasana kota Tabanan yang sejuk dan segar membuat aku terhanyut dalam kenyamanan yang selalu ku nantikan selama di Denpasar. Aku pun sekalian liburan di sana. Tante Nuri yang sudah puluhan tahun di Tabanan menyambut aku dengan sukacita. Kehadiranku seperti memberi warna baru dalam keluarga itu. Maklum Tante Nuri tak punya anak perempuan. Sepupuku Kak Pardi dan Pandu yang baru berumur 8 tahun pun senang sekali aku datang seperti pulang kampung di sambut sama adik sendiri. Pandu pun mulai dengan kemanjaannya dia tidur sama aku selama aku di sana.
“ Kak Pardi.. kenapa melamun aja?” sapaku sore itu, saat itu dia sedang termenung dengan rokok di jarinya.
‘ Hei… Melati.. kapan datang?” sahutnya dengan senyum.
“ Tadi siang.. gimana kabar kak?’ tanyaku lagi.
“ Kabar?.. begitulah… kamu gimana pekerjaanmu? Enak dong sudah kerja sekarang, mana pacarmu?” ledek dia yang tentunya membuat aku menghembuskan nafas dalam-dalam dan membuangnya alias aku Cuma tak punya satu pun jawaban.
“ Yah.. kenapa Tanya yang itu sih… sudah ah aku mau ke kebun belakang lihat strowbery, sama Pandu.. kak ikut ya!” pintaku
Kami pun berangkat ke kebun belakang rumah, alunan seruling Bali yang membayangkan bagaimana suasana pedesaan yang mendekati surga itu.  Aku dan sepupuku pun menikmati indahnya udara sore itu. Tak lama kemudian aku pun tiba di sungai, airnya segar seperti air suci ditengah gurun pasir, segar dan suci. Aku pun membasuh muka tanpa ku sadari Pandu sudah berteriak – teriak bermain dengan air sambil memperagakan jurus poweranges  kartun favoritnya.
Tak lama kemudian aku pun menuju beberapa hamparan pohon strowbery yang tampak merah , matang dan gemuk, aku pun tanpa mencucinya langsung menikmatinya. “ Heh.. Mel.. Cuci dulu “ teriak Tante Nuri yang tiba – tiba muncul dengan keranjang kecil berisi snack, makanan khas bali jaje kukus( ketan item di kukus terus di isi gula merah dan parutan kelapa) di tambah lagi teh manis yang masih hangat. Kami pun menyerbu apa yang dibawa tante Nuri. Tante Nuri pun dengan lincahnya membagikan makanan itu. Hal seperti inilah yang sudah lama aku rindukan bersama keluargaku. Saat aku memutuskan untuk tinggal di Denpasar, maka waktu berkumpul dengan keluarga adalah saat-saat yang paling berharga, tak ada lagi omelan ibuku yang menyuruhku ini itu, tidak ada lagi ujian-pujian bapakku yang selalu membuat aku besar kepala. Aku hanya tak mengerti, kenapa Bapakku bangga sekali punya anak yang seperti aku, putri pertamanya yang paling cantik, hal ini berbeda dengan ibuku. Beliau lebih suka marah kepadaku daripada menyanjungku atau memberikan aku penghargaan karena juara kelas atau menang lomba antar kelas waktu aku masih sekolah dulu.
Cerita tentang keluargaku nanti lagi, sekarang aku mau mengisahkan cerita Kak Pardi dulu. Dari jauh tampak Paman Punia membawa seikat rambutan merah dan sebatang buah Kasa yang sudah menguning. “ Wah paman, dapet dimana, buah itu?” tanyaku sambil merampas bawaan pamanku yang baik hati itu.
“ Paman tahu kamu datang jadi buah ini paman sisakan buat kamu…” jawab paman lengkap denga gelak tawanya yang lucu itu.
‘Hahahaha..’ aku pun ikut tertawa.
“Hahhaha…” tanpa disangka kak Pardi tertawa setelah aku tertawa.
“ Kenapa Ketawa?”Tanyaku
“ Ngetawain ketawa mu lucu.. hahhaha” jawabnya sambil mengunyah kue Kukus. Aku pun langsung melempar dia dengan kulit buah Kasa. Terjadilah adegan kejar kejaran yang membuat aku terjatuh di antara timbunan tanah bekas panen kentang. Meraka pun makin seru tertawa. Tapi aku pun terus mengejar. Hingga sampailah di pinggir sungai Kak Pardi mampu ku taklukkan. Dengan pura – pura terjatuh. Dan dia pun menggendongku karena kakiku sakit.
“Kak… sekarang kakak jarang di rumah yah?” tanyaku mengawali pembicaraan.
“ Kata siapa?” Tanya kak Pardi lagi.
“ Tuh tante bilang… main mulu ya… kemana? Ikut dong..”Kataku tak mau kalah
“Hm… mau tahu aja!..” sahutanya pendek sambil menurunkan aku di pinggir kali yang jernih itu.
“ Kak, masih sakit hati ya? Karena Mbok Desak? Aku ngerti kok..” kataku  tapi kak pardi tak menyahut bahkan seperti takut memendangku.
“ Tapi bukan berarti hidup kakak berhenti sampai di sini kan?” desakku agar dia mau bercerita.
“ Sulit Mel.. tidak seperti yang kamu pikir.. dia selalu mengisi pikiranku.. ia pergi bukan kerana kemauannya, karena adat desa kala patra…yang tidak bisa dihindari Melati?” kata Kak Pardi seperti keluar dari hati yang terdalam. Aku pun binggung jawab apa.
“ Terus kak mau ngapain? Mau terus menunggunya, dan kak yakin jika dia juga memikirkan kakak seperti kakak memikirkan dia, kasihan Tante, Paman, Pandu juga..  Mereka tidak tega, mereka sakit hati juga melihat kakak begini!” kataku sok tahu padahal aku juga tidak tahu benar atau tidak.
  Sudah.. ayo kita pulang sudah sore banget ntar keburu datang kabut!” katanya mengalihkan pembicaraan. “ Nges, nges.. susah payah cari jawaban ujung – ujungnya nggak dihirauin” pikirku dalam hati. Tapi tidak apa yang penting aku sudah berusaha mengajak dia bicara, walaupun hasilnya nihil.
Sudah kuduga tante Nuri pasti akan menanyakan hal ini, tugasku ini sangat aneh kenapa aku harus jadi dokter cinta padahal aku sendiri belum pernah jatuh cinta. Pernah pacaran tapi satu minggu jadian putus itu pun waktu SMP.  Pacar kedua minta putus sendiri setelah 3 bulan bertahan denganku karena aku cuekin itu pun waktu SMA. Kuliah aku lengkap dengan perjodohan yang tidak jelas oleh orang tuaku karena kau tak tertarik begitu juga dengan pasanganku. Dua tiga kali pun ada cowok tetanggaku yang main ke rumah buat mendekatiku. Tapi aku tinggal nonton dengan teman – teman akhirnya dia ditemani bapak aku atau nenek aku. Cerita – cerita mereka pun asyik kelihatannya. Namun dia jera juga datang ke rumah dan pulang sendiri tanpa pamitan. :D wkwkwkkwk sejak saat itu taka da lagi laki-laki yang mau bermain ke rumahku hanya untuk mendekatiku.
“ Bangun… “ seruan itu aku dengar dari balik selimut “ Bangun, pemalas..” teriak Pandu, sambil menarik selimut dan menarikku mengajak ke luar rumah. “ Aduh.. Pandu.. mau Kemana?” Tanyaku.
“ Ayo, Lari pagi… “ seru Pandu. Aku pun langsung cuci muka dan langsung mengikuti Pandu dan Kak pardi yang sudah duluan di jalan raya. Jalan ini prĂ©cis sama dengan jalan di Desaku, bersih rapi dan segar. Aku jadi teringat dengan Adi, teman Kecil yang aneh itu yang kini lagi dekat dengan Dahlia. Dan aku yakin sebentar lagi mereka jadian. Dulu aku suka lari pagi dengannya. Walaupun cowok dia suka olahraga di pagi hari bahkan bela – belain bangun aku pagi – pagi sekali. Tapi tidak tahu apakah sekarang dia masih seperti itu atau tidak.
Liburanku usai sudah, aku pun harus kembali ke kantor karena manajer baru itu selalu menanyakan aku tiap kali masuk kantor lewat Rossa. Sampai – sampai mereka bilang kalau aku dan Pak Surya ada apa – apa. Saat pamitan tiba biasa tante Nuri memenuhi tasku dengan berbagai oleh – oleh buahlah, kacanglah, kripiklah dan berbagai makanan penganan lainya. “ Tante gak ada tas yang lebih gede?’ tanyaku sambil tertawa.
“ Ada.. pakai ini saja. tenang saja nanti Pardi yang antar kok sampai di terminal. Ini lagi roti buat sarapan, yah! jangan telat makan kamu sudah kena Maag itu!’ nasehat Tante Nuri.
“ Tante.. sudah cukup, nanti Pandu maem apa,, aduh.. kumat deh ah.. tante sudah, aku gak mau ke sini lagi” ancam aku. Tanteku sudah lebih parah dari Ibuku bila aku berangkat ke Denpasar. Semua perbekalan mulai dari makanan, bahkan kadang alat-alat memasak dimintanya aku untuk membawa ke kosan aku, katanya biar gak beli lagi dan aku bisa memasak dan menghemat biaya bulanan. Benar juga sih, karena ada alat masak seperti Magic Com atau pengahangat air aku jadi lebih suka masak diKosan daripada jajan di luar.
Akhirnya aku pun Tiba di denpasar dengan selamat. Aku masih ingat kata kak Pardi lewat sms “ terima kasih adikku, semoga kamu bisa menemukan cinta sejati yang tulus mencintaimu. Kamu telah membuka mata kakak, jaga dirimu’ aku pun tersenyum bis pun melaju Denpasar. Sambutan meriah aku terima dari Adi dan Rosa yang dari tadi katanya menunggu aku di Kos. Katanya mereka mau nonton bareng sayangnya aku capek dan tidak bisa ikut.
Pagi yang cerah tapi kelihatanya tak secerah kantor karena pagi aku di penuhi oleh tugas tidak jelas dari manejer aneh ini.  Tapi kenapa aku saja kan masih ada karyawan yang lain.
“ Asyik liburannya?” sapa Pak surya pagi itu yang nongol begitu saja dihadapanku.
“Hm, Iya.. pagi pak” Sahutku kaget.
“ Lain kali sekalian aja ambil cuti yang lebih lama.biar saya siapakan pesangon untuk anda.” Kata Pak Surya yang membuatku kaget minta ampun sambil berlalu keruangannya.
Gila itu manager baru juga sebulan sudah berani mengaturku seperti itu. Memangnya apa salahnya aku ngurus keluarga dulu. Kalo gak inget – inget bayaran kosan bulan depan aja aku langsung resign dari hadapanmu.
Di ruang rapat yang sunyi senyap dengan tembang pidato dari pak Manager membuat aku mengantuk hebat. Betapa terkejutnya saat aku mendengar namaku disebut. “Melati, bisa tolong ambilkan file saya yang ada diatas meja tadi terlupakan”katanya. “ Baik Pak” sahutku sambil berjalan keluar.
Huh, kukira dia sadar akan kelelahaku. Begitu aku balik rapat sudah mau kelar dan file yang aku bawa tidak jadi dipakai. “ Pak, ini filenya” kataku. “ Terima kasih,Mel mari ikut keruangan saya ada sesuatu yang harus kamu kerjakan” sahut Pak Surya dan aku pun hanya bisa mengikuti perintahnya.
Sampai diruangannya aku langsung dihujani oleh file – file yang harus aku rekap. Baiklah Pak jawbaku dalam hati. Saat kembali ke meja Puspa melirikku. “ banyak kerjaan ya?” katanya
“ Iya nih” jawabku pendek. “ Sama ini… “ sahutnya sambil melirik tugasnya juga. “ Oh MG, kau dapat juga” Kataku heran. “ Kamu baru masuk sih aku dari kemarin sudah hujan kerjaan kaya gini “ gerutunya dan baru kali ini aku melihat dia ngomel karena kerjaan. “ Oya, Puspa, ntar makan siang bareng yuk!” ajakku. “ Boleh.. makan sate lilit diwarung sebelah yuk” ajaknya. “ Boleh.. J” dalam hati aku bertanya tumben nih anak nyambung sama orang, kenapa ya?.
Sedang asyik menikmati sate lilit tanpa ku duga Pak Surya ada disebelahku sambil berkata “ Lezat nian, kok gak ngajak – ngajak sih?. Kagetnya diriku sampai keselek dan aku pun terbatuk.
“ Wah, pelan – pelan masih ada kok satenya “ kata Pak surya lagi. Sambil meneguk air aku pun menarik nafas. “ Lho Pak kok disini? “ kataku
“Emang kenapa, kan aku selalu ada dihatimu?” gombal yang membuat aku makin bingung sementara Puspa disebelahku hanya tersenyum.
“ Pak satu porsi lagi sate sama nasinya ya!” kata Pak surya pada tukang sate. Aku pun menjadi tidak nyaman makan dengan atasan strik kaya dia, jangan – jangan gaya makanku juga dikomentari sama dia.
“ Oya, Mel bagaiman kabar Rosa sudah baikan dia, kapan bisa kerja lagi?’ Tukan apa yang aku pikirkan kejadian, ini orang gak akan mau deket sama orang kalo tidak ada maunya.
“ Oh, besok dia sudah balik dari rumah sakit kok” jawabku
“ Kasian si Lia sampai kaya gitu karena cinta “tambah Puspa mulai bersuara
“ Itulah pejuang cinta sejati namanya Puspa, gak kaya kamu baru aja tumbuh udah layu lagi kapan berkembangnya” sahut pak Surya yang membuat aku hanya bisa tersenyum. Tampak seperti sudah berpengalaman soal cinta.
“ Cinta sejati sesungguhnya tak akan kemana pak, kalo sudah jodohnya tak kan lari “ sahutku
“ Iya, ngapain harus pake bunuh diri segala, semua itu tak akan menyelesaikan masalah malah menambah masalah kan??” sahut Puspa lagi
“ tapi cinta sejati tak akan datang tanpa diperjuangkan kan? Contohnya kalian berdua, hm hidup kalian gak ada tantangan karena cinta kalian jauh semua ckckkck.. “ kata Pak Surya  sambil menikmati makanan di siang yang terik ditambah lagi dengan es kelapa muda yang segar.
“ Cie.. pake mojokin kita berdua. Emang bapak sudah punya pacar?” kataku tak mau kalah
“ Iya nih, bukanya kemarin baru aja putus, perjuangin tuh cinta sejati” kata Puspa keliahatan mereka sudah kenal lama.
“ Oh,ya? Tragis… “ seruku sambil merapikan tempat duduk mau kembali ke kantor.
“ Hemm.. kalian membuka luka lama” sahutnya kesel. Sungguh jawaban yang tak terduga. Aku kira dia akan mengamuk dan menghancurkan warung sate lilit kebanggaan kita semua ini.
“ Apa aku bilang makanya jangan menyalakan api duluan ntar malu – maluin, ckckkc “ kata Puspa sambil tertawa. Waduh kenapa pembicaraan jadi intim begini. Aku pun mengikuti alur.
“ Maksudnya? Api apa puspa.. “ tanyaku sambil menyembunyikan kekagetanku.
“ Udah ah, si Puspa emang suka ngada – ngada” kata pak Surya malu dengan muka merahnya
Ternyata pak Surya teman SMA Puspa yang sudah lama tidak bertemu dan baru dua bulan bertemu setelah balik dari Columbia. Rencana dia balik ke Bali ingin melamar seorang gadis asal Ubud yang pernah jadi pacarnya dulu. Alangkah terkejutnya ketika dia tahu pacarnya baru saja menikah karena dijodohkan sebulan sebelum kedatangannya. Padahal dulunya mereka saling mecintai orang tua pun sudah pada setuju. Tapi karena orang tua yang perempuan takut Pak surya tidak tepat janji maka saat ada yang melamar anaknya diijinkan. Tapi semua telah terjadi sekarang tinggal Pak Surya dalam penyesalan. Seandainya dia menikah dulu sebelum ke luar negeri pasti tak akan ditinggalkan begini. Mungkin karena tidak jodoh makanya Tuhan punya jalan lain untuk Pak Surya. Begitulah hidup yang kadang harus memilih antara cinta dan karir. Kadang karir menang maka cinta harus dikorbankan.
Duh, kok jadi nyeritain Pak surya, sekarang Rosa nih. Dikamar kosan yang sempit tapi rame penuh dengan tawa aku dan Rosa yang sudah pulang dari rumah sakit. Hari itu kondisi Rosa kacau, akibat tekanan orang tuanya. Orang tua tetap tidak setuju dengan lamaran Andi yang berasal dari agama lain itu melamar Rosa. Setelah Rosa dan Dahlia tertidur aku duduk dekat jendela menatap bulan yang setengah lingkaran menyala di balik awan yang kelam karena hujan. Seperti itukah cinta yang pasti ada walaupun halangan merintang. Adakah cinta untukku yang sudah tak ingin jatuh cinta ini. Dalam hati aku memang menginginkan sosok seseorang laki-laki yang bisa mengisi hatiku. Tapi setelah melihat kejadian – kejadian karena cinta yang menyayat hati itu. Rasanya lebih tenang tanpa cinta walau harus sendiri bila malam minggu tiba. Walau harus sendiri bila menangis daripada menagis karena cinta.
Hari berganti hari, Dahlia yang sempat hampir mati karena bunuh diri dapat kembali metata diri. Terlebih lagi dengan kehadiran teman-temannya. Pak Surya juga sempat menengoknya. Ternyata Pak Surya tak sekejam yang aku bayangkan. Berbeda dengan Pak Surya yang menjalankan fungsinya sebagai atasan Lia, Adi akhir-akhir ini sering aku temukan bersama Dahlia. Entah kenapa, dalam hati aku bertanya apakah ada sesuatu?Biarlah…
“ Bangunnnnn… heh Melati Bangun.. “ teriak seseorang dari telingaku. Ternyata itu Adi dan Dahlia mereka ingin ditemami lari pagi.
“Aduh kalian, mau lari pagi berdua ngapain ngajak aku.. nggak ah, ngantuk!!!”kataku sambil mengambil selimut
“ Ayolah… “ kata Dahlia sambil menarik selimutku yang baru saja aku kenakan. Setelah hampir 15 menit mareka membangunkan aku. Aku pun beranjak dari tempat tidur cuci muka dan lari pagi bersama mereka. Sampailah di sebuah taman di sekitar Renon. Aku masih berlari mengelilingi taman. Tapi mereka duduk berdua. Ngapain mereka katanya mau olahraga kenapa sekarang malah duduk. Karena sudah siang aku pun pulang. Setelah sampai di rumah Dahlia sms “ kamu dimana?”. Aku bales “ dirumah”. Balasan muncul yang mengatakan kenapa tidak bilang mereka mencariku. Sudahlah aku tahu kok kalian sudah jadian kan? Balasan smsku membuat Dahlia tersenyum. Ternyata benar mareka jadian sudah seminggu yang lalu. Aku pun balas lagi “ congratulation J “.
Andai semua orang yang jatuh cinta seperti ini pasti tak akan ada yang patah hati, sakit hati hingga bunuh diri. Sampai suatu kali Adi menjemputku kekantor dan ingin diantarkan ke mall untk membeli hadiah untuk Dahlia. Saat itu juga dahlia sms pengen ke mall bareng sama aku. Aku tolak jadinya.
“ Mel, pulang bareng yuk.. “ ajak Pak surya saat aku sedeng menunggu Adi di parkiran.
“ Oh, terima Kasih, saya menunggu teman” sahutku tumben nih bapak – bapak ngajak aku pulang bareng.
“ Oh, ya? Temen apa teman?” ledeknnya yang membuat aku bingung. Ngapain sih nih bapak sok akrab. Sedang asyik ngobrol dengan Pak Surya, datanglah Adi dan kami pun berangkat ke mall.
Di mall Adi memilih hadiah seperti bunga dan boneka untuk Dahlia. Keliahatannya Adi sangat mencintai Dahlia sampai membeli hadiah pun yang terbayang muka Dahlia. Sedang asyik memilih hadiah aku berjalan di sekitar mainan kartu ucapan untuk hari Valentine yang lucu dan cantik tiba – tiba Adi mengejutkanku dari belakang hingga kau mau jatuh untung Adi menangkapku. Hampir! Saat itu juga aku melihat Dahlia memperhatikan kami berdua sedang pengangan tangan “ Dahlia” kataku. Tapi tak terdengar olehnya karena terlanjur pergi. Ahhhh… Adi berlari mengejar Dahlia dan tangan aku dilepasnya hingga terjatuh beneran. Buggkkk… “Kurang ajar Adi awas kau” umpatku dalam hati. 
To be Continued... ep 3

Sabtu, 02 Mei 2015

Sejarah Bestala




Bestala sebuah desa indah di daerah Bali Utara tepatnya di Kecamatan Seririt. Desa Asri dengan pemandangan yang masih alami dan hijau. Selain alamnya yang masih Asri, Bestala juga masih memegang teguh adat dan Budaya Bali dalam konsep ajaran Agama Hindu. Tri Hita Karana adalah salah satu ajaran yang tetap dipegang teguh oleh penduduk warga desa ini. Parahyangan atau menjaga hubungan baik dengan Tuhan atau Sang Hyang Widhi Wasa. Pawongan atau menjaga hubungan baik dengan sesame mahluk ciptaan Tuhan. Palemahan adalah menjaga hubungan baik dengan alam. Tak salah jika rahmat dari Tuhan berupa ketentraman dan keajegan desa serta hasil bumi berupa buah-buahan masih berlimpah di Desa kecil ini.
Suasana hijau di kelilingi sawah, perkebunan buah-buahan, palawija dan gemericik mata air alami di tengah-tengah desa, menjadi pemandangan langka buat para wisatawan yang datang berkunjung. Ditambah dengan kemegahan pura khayangan tiga yang tertata rapi di pinggir sungai Mendaum yang jernih.
Namun tak terlepas dari indah dan asrinya desa ini tentu ada sejarah yang tak bisa dilupakan. Ini tulisan di buat untuk dokumentasi dan bahan pengetahuan untuk anak-cucu khususnya yang berasal desa Bestala. Terlepas benar atau tidak cerita ini, hal ini akan menjadi awal mereka mengenal dari mana asal-usul tempat mereka ini. sehingga tertanam rasa memiliki dan mencintai daerah tempat tinggalnya hingga nanti.
Setelah melakukan wawancara dengan salah satu penua dari Desa Bestala, akhirnya diketahui jika orang bestala khususnya warga Pasek adalah keturunan dari Klungkung.
Konon ada 9 warga klungkung salah satunya adalah arya Damar yang diutus oleh raja klungkung untuk mengantar 8 warga klungkung untuk mencari tempat untuk kehidupan. Sampailah mereka di Naga Loka, mereka semua tersesat, karena itu mereka membuat kesepakatan yaitu setuju akan membuat pelinggih pura sebanyak jumlah mereka sekarang. Kemudian Arya Damar beserta delapan warga pasek itu memohon kepada Dewa dan munculah Dewa dan bersabda “ Berjalanlah ke arah Selatan Timur sampai melihat cahaya yang terang” . maka berangkatlah Sembilan warga Pasek itu sesuai dengan petunjuk dewata. Sampailah mereka di sebuah tempat yang terang yang penuh cahaya dan mereka bertemu dengan Sri Mpu Sangging penguasa daerah tersebut. Maka diberinamalah tempat itu Nabastala. Kata Nabastala pun diketahui artinya dari kata Nabas= galang, Tala= tempat atau daerah. Selanjutnya sejalan dengan waktu tempat itu bernama Bestala.
Sembilan warga itu berembung untuk membangun desa. Diambilah daerah dihulu desa dan pura Dalem. Kemudian Dewata meanugerahkan keris sebagai dasar pembuatan Pura dan air suci yaitu Tirta dewa Yadnya ( mengening), Manusa Yadhya ( Biji) and Pitra Yadnya ( Demong). Mata Air ini sampai saat ini masih mengalir dan digunakan oleh warga desa Bestala khususnya untuk kehibupan sehari-hari, pertanian dan perkebunan, bahkan warga desa tetangga pun ikut menikmatinya. 


Suatu hari salah satu dari mereka meninggal dan mereka merasa aneh membawa jenasah kea rah hulu. Maka Setra pun pindah ke hilir desa. Mereka pun membangun Pura Dalem di sana di dekat aliran sungai Mendaum. Karena tidak boleh memiliki Pura Dalem lebih dari satu maka Pura yang ada di Hulu di pindah ke Hilir. Setiap ada Pujawali dilakukan uapacara pemendakan.  (To Be continued)

Jumat, 08 Agustus 2014

Di Balik Layar

 Bukan hal baru buatku menemukan orang – orang bersaing meraih posisi dan kesuksesan dangan cara apapun. Hal ini sering aku dengar dari ibuku, teman – teman dan juga tetangga. Wah jadi curcolku kelebihan nih, tapi itu bukan tidak bermanfaat. Ada pepatah yang mengatakan belajar dari pengalaman itu bagus sekali, tapi akan lebih bagus lagi kalau itu pengalaman orang lain. Cerita tentang mahasiswa atau karyawan yang harus berdebat dimeja kerja demi mempertahankan pendapat atau posisi atau preman yang mempertahankan kekuasaan itu pasti wajar tapi yang tidak wajar adalah jika pelakunya adalah nenek yang umurnya sudah 80 tahun keatas.
Siang itu, aku dan temanku sedikit tersesat mencari alamat tempat tes untuk mencari pekerjaan besoknya. Tapi entah kenapa aku mengambil arah yang salah dan aku terus berjalan. Hingga akhirnya aku dipersimpangan jalan dan ingin bertanya. Tampak ada nenek berpakaian lusuh duduk dipinggir jalan. Aku dan temanku mencari tempat agar teduh untuk melihat alamat kembali. Tiba – tiba nenek itu berteriak dan marah – marah pada seorang laki – laki yang berdiri tidak jauh dibelakangku. Karena kaget aku dan temanku menoleh. Sempat aku dengar jika nenek itu mengumpat seorang sopir mobil APVwarna hitam yang ingin perkir di persimpangan jalan itu, agak kedalam sih jadi cocok untuk tempat parkir sebenarnya. Nenek itu protes kepada pemuda tadi yang mengambil uang parkir dari sopir, karena wilayah/tanah itu ada dibawah kekuasaannya. Tampak pemuda itu memberikan uang pada nenek itu, baru nenek itu berhenti marah. Saat beliau sedang marah dan memaki kearah pemuda tadi aku lihat cincin emas melingkar ditangannya. Wah, wah.. hebat banget. Nenek- nenek juga masih punya wilayah kekuasaan rupanya. Akhirnya aku bertanya pada satpam yang tak jauh dari tempat itu juga. Ternyata benar kita salah arah.
Sore itu juga aku ngajar didaerah Jakarta pusat. Agak jauh kedalam dan satu – satunya kendaraan yang paling cepat aku dapatkan dan murah adalah P20 jurusan senen-lebak bulus. Sudah sedikit gelap jadi aku harus buru – buru naik. Tak jauh dari sana ada seorang nenek naik lengkap dengan sebuah tas besar, sebuah bungkusan plastik bening dan sebuah bungkusan plastik putih jadi totalnya 3 barang besar belum tas kecil yang selalu dipundaknya. Wah hebat banget nih nenek, tapi kenapa tidak naik taksi atau angkutan yang lebih manusiawi lagi untuk seorang nenek tua seperti nenek ini. Oleh kondektur nenek itu duduk disebelahku tepat dibelakang supir, tapi beda kursi denganku, dibelakang supir sudah ada ibu muda berjilbab yang tampaknya tidak nyaman dengan kehadiran nenek. Bagaimana bisa nyaman coba, barang yang banyak itu ditaruh nenek tepat didepannya dan nenek juga tertidur sambil menempelkan kepalanya dibahu si ibu. Suasana bis kota yang memang selalu pengap itu ditambah dengan macet dan kehadiran nenek yang mendesaknya terus pasti lama – lama tidak kuat. Beberapa kali aku lihat nenek dengan ibu muda itu berbeda pendapat dan ibu muda berusaha untuk keluar dari desakan si nenek. Hingga akhirnya dengan berbagai cara dan dibawah tekanan tak mampu bernafas, akhirnya si Ibu muda ingin keluar dari tempat duduknya. Nenek yang tak mau tas atau barang – barang terlangkahi apalagi terinjak kaki berusaha menahan ibu muda seeprti membuat jalan, agar tak melawati. Sayangnya si Ibu muda tidak tahu atau karena memang sebel, beliau berjalan dan melangkahi tas nenek, nenek yang kesal karena merasa tersolimi langsung mengumpat dan memaki – maki Ibu Muda dari tempat duduknya. Orang yang paling dekat kena marah dan kaget adalah aku dan Pak Supir. Aku tak menyangka nenek akan semarah dan seganas itu. Wah, sepanjang perjalanan hingga aku turun dari bis kota itu nenek masih kesal dan berbicara sendiri mengarah ke Ibu muda yang kini masih duduk di depanku.

Sungguh nenek-nenek ini luar biasa. Mereka mengingatkan aku pada kakek dan nenekku yang luarbiasa di rumahku. Yang tak pernah henti memberikan dukungan dan nasehat indahnya. Kakekku, bukanlah orang yang senang di masa kecilnya. menurut cerita nenek aku, Beliau, anak yatim piatu, bapaknya meninggal ketika kecil dan ibunya menikah lagi beberap waktu kemudian. Kakekku dan kedua adik laki- lakinya tinggal bersama bibinya yang sangat cerewet dan kejam. Mereka harus menumbuk padi orang lain agar mendapatkan upah beras. Tak pernah punya waktu bermain dan selalu bekerja apapun itu untuk menyambung hidup. Memang pada masa itu hidup sangat sulit, ditambah lagi dengan kondisi keluarganya yang demikian. Walaupun demikian pengalaman berdagang yang digelutinya dari kecil membuat kakekku pintar sekali menghitung. Beliau dan Nenekku adalah dua cinta sejati yang hebat dalam matematika. Mereka punya rumus tertentu yang menyelesaikan masalah matematika seperti perkalian sebelah, duapuluh lima dan persentange, penjumlah, perkalian, pembagian dan pengurangan sudah di luar kepala. Mereka hebat walaupun nenekku tak lulus sekolah dasar dan kakekku lulus sekolah rakyat. Merekalah yang mengenalkan padaku indahnya matematika dari masalah kehidupan sehari-hari. Jika kakek nenekku yang sangat peduli dengan pendidikan berbeda dengan Bapakku dan ibuku yang pelit, sampai dengan uang buat beli buku pun susah ku dapatkan
Setiap anak atau remaja orang tua yang paling di sayang adalah bapak atau ibu. Kalau aku sedikit berbeda. Karena aku lebih menyayangi Kakek dan nenekku dari pada orang tuaku. Aku sayang Bapak dan juga Ibuku sebagai orang yang telah melahirkan dan membesarku. Tapi orang yang lebih memaknai hidupku adalah kedua orang tua ayahku ini. Sebagai anak pertama dari empat bersaudara kedua orang tuaku tak mudah untuk mendidikku satu persatu apalagi memenuhi kebutuhan sekolahku. Bapakku seorang petani kecil yang perhasilannya tak begitu besar. Aku tak bisa meminta sesuatu yang benar – benar aku inginkan kepada orang tuaku. Karena jika aku membeli seperti baju baru atau sepatu baru, adikku yang lain juga pasti akan merengek – rengek ingin dibelikan. Begitu juga sebaliknya, aku belum mengerti dan belum paham arti bergiliran dan mengalah. Karena aku tak mau mengalah juga ibu kadang memarahiku bahkan mencubitku hingga biru. Suatu hari aku minta dibelikan buku, kalau baju aku tak dbelikan itu tak masalah masih ada baju yang lain. Tapi jika urusan sekolah aku tak bisa menundanya. Aku hanya menangis karena ibu dan Bapak tak mungkin mengabulkannya. Karena tak tahan mendengar aku menangis terus ibuku yang sedikit ringan tangan melemparku dengan apa saja yang ada didekatnya. 



Itu sudah biasa, apalagi jika aku terlambat atau lupa mengerjakan pekerjaan rumah seperti menyapu atau mengambil air yang tempatnya lumanyan jauh, atau membuang sampah sembarangan aku akan kena jewer atau marahnya. Saat ini, itu adalah hal biasa karena memang dasarnya saja aku anak yang sedikit aktif dan tidak suka tidur siang jadi main terus hingga lupa mengerjakan pekerjaan rumah. Tapi waktu itu, saat aku belum tahu arti disiplin dan tanggung jawab tugas dan kewajiban adalah hal yang paling menyiksa. Aku tak mengerti kenapa teman – temanku bisa bebas bermain tanpa pernah dimarahi ataupun dicubit yang membuat pantat atau tanganku sakit. Aku paling tak suka tugas menjaga adik, karena itu akan membatasi gerakan aku untuk bermain dengan teman – temanku. Saat itu umurku baru 8-9 tahun. Jadi sekitar kelas 4 atau 5 Sekolah Dasar. Aku ingin sekali dibelikan buku bahasa Bali. Tapi Bapak tak kunjung membelikannya, padahal semua tugas membaca aksara Bali belum aku buat karena menunggu buku yang akan dibelikan Bapak. Aku menuruti dan mengerjakan apa yang ditugaskan Ibu di rumah seperti menjaga adik, menyapu, mencuci dan mengambil air. Tumben aku tak kena marah urusan itu, hanya karena aku ingin buku itu demi pelajaran Bahasa Baliku yang jelek terus karena aku tak punya buku.
Bagaimana aku bisa terima nilai aku yang lain antara 80 samapi 90 tapi Bahasa Bali dapat 70, aku orang Bali kenapa dapetnya segitu. Teman – teman yang lain pada punya buku yang dibelikan orang mereka masing – masing, mereka belajar dan bisa menjawab soal ulangan dengan baik. Tapi aku, membaca aksara Bali saja masih tersendat apalagi bisa menjawab pertanyaannya. Padahal dari segi logika, aku lebih tahu jawabannya dari pada teman – temanku. Terbukti saat satu kali aku ulangan menggunakan tulisan latin, nilaiku 100. Tapi begitu aksara Bali, nilaiku mulai jatuh dan sulit untuk naik lagi dalam kondisi tak punya buku. Itulah alasan aku memaksa Bapak membelikan Buku. Bapak memang beda, aku pun diajak Bapak langsung ke toko yang letaknya lumayan jauh dari rumah. Saat tiba di toko buku yang tak begitu besar dan imut itu, aku senang sekali. Andai aku punya banyak uang pasti aku beli semua buku – buku yang aku butuhkan saat itu juga. Ditambah dengan beberapa majalah, buku cerita, novel dan buku pelajaran lainnya. Wah, aku langsung gila buku, posisiku saat ini seperti si pungguk merindukan bulan. Aku sudah cukup senang dan bahagia buku Bahasa Bali yang aku butuhkan aku dapatkan.

Perbedaan pendapat dengan Ibu yang tidak selamanya berjalan lancar. Tujuan Ibu melakukan itu adalah untuk mendidikku. Kalau tidak, mungkin sekarang aku menjadi orang manja dan kerjanya hanya minta uang tanpa mau berusaha. Terima Kasih Ibu dan Bapak yang telah membuatku lebih memaknai hidup. Kakek dan Nenekku yang membuatku tak pernah patah semangat walaupun badai menimpaku dan menghalangi jalanku mengingat kalian membuatku bangkit dan terus maju. Keluargakulah yang ada di balik aku saat ini.

Senin, 22 Juli 2013

Seberapa Pancasilakah Anda?



Seperti yang kita ketahui Pancasila merupakan ideologi bangsa Indonesia yang dibentuk oleh para pendiri bangsa Indonesia pada tahun 1945. Lahirnya Pancasila pada tahun 1945 tidak terlepas dari perdebatan dan perbedaan pendapat dari para pendiri bangsa Indonesia. Hal itu terjadi karena para pendiri bangsa Indonesia menginginkan ideologi bangsa yang benar – benar sesuai dengan jiwa bangsa Indonesia. Salah satunya mempertimbangkan keberagaman dan kemajemukan budaya dari setiap daerah yang dimiliki bangsa Indonesia. Seperti pada sila pertama Pancasila yang awalnya “Ketuhanan yang maha esa dan kewajiban menjalankan syarikat islam bagi pemeluk - pemeluknya”. Namun hal ini menjadi perdebatan karena hal ini akan mematikan perkembangan agama lain selain Islam yang juga bagian dari bangsa Indonesia.
Kemudian pada rapat PPKI tanggal 18 Agustus 1945 terdapat usulan menghilangkan kalimat “kewajiban menjalankan syarikat islam bagi pemeluk – pemeluknya” sehingga sila pertama menjadi “Ketuhanan yang maha esa”. Hal ini  dilakukan sebagai pertimbangan kemajemukan bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai agama. Agama Islam memang mayoritas di Indonesia saat itu, tapi di Indonesia juga ada agama selain Islam yang juga merupakan bagian dari bangsa Indonesia. Begitu banyak yang dipertimbangkan dan diperhatikan saat itu hingga terlahir Pancasila yang menjadi dasar, falsafah dan identitas bangsa Indonesia. Oleh karena itu penting bagi rakyat Indonesia menghargai dan menjalankan nilai – nilai Pancasila.
Selain itu setiap sila Pancasila yang telah disusun sedemikian rupa oleh pendiri bangsa memiliki makna tersendiri yang menjiwa kehidupan berbangsa dan bernegara bangsa Indonesia. Setiap sila yang tersusun juga saling berkaitan dengan sila yang lainnya. Misalnya sila pertama Pancasila yang juga berhubungan dengan sila kemanusian yang beradab dan sila persatuan Indonesia. Indonesia yang beragam harus dapat bersatu dan selalu mempertikan nilai – nilai kemanusian dan ajaran agama yang anut oleh masing – masing penduduk. Demikian juga sila keempat, untuk dapat menciptakan pemerintahan demokratis harus diikuti dengan keinginan untuk mewujudkan keadilan bagi seluruh Indonesia seperti yang ada pada sila kelima. Indonesia merupakan negara beragam yang membutuhkan dasar dan landasan kehidupan berbangsa dan bernegara yang sesuai dengan kemajemukannya itu. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa Pancasila merupakan landasan yang sesuai dengan jiwa kehidupan bangsa Indonesia saat ini.
Seperti yang dituliskan oleh Astuti (2012) sila Ketuhanan yang maha esa yang bermakna bahwa bangsa Indonesia percaya dengan mengakui adanya satu Tuhan. Sehingga sebagai umat beragama, bangsa Indonesia harus taat dan menjalankan ajaran agama yang diyakininya. Selain itu juga menghargai dan menghormati agama atau keyakinan orang lain. Namun dalam pelaksaannya saat ini banyak terjadi konflik atas nama agama yang mengganggu keamanan dan membuat resah masyarakat. Hal ini terjadi karena lemahnya pamahaman masyarakat tentang agamanya sendiri dan juga pemahaman tentang makna Pancasila itu sendiri. Belum lagi isu munculnya aliran sesat yang belakangan mewarnai kehidupan beragama di Indonesia. Sebagai bangsa Indonesia yang percaya dengan adanya satu Tuhan seharusnya tetap pada pendirian dengan menjalankan ajaran agama yang diyakini dan menghormati agama orang lain yang berbeda dengan kita tanpa harus berpikir bahwa keyakinan orang lain itu salah dan keyakinan ini yang benar.
Selama saya menjadi warga Negara Indonesia saya percaya dan menjalankan ajaran agama Hindu dan saya berinteraksi dengan teman saya yang juga berbeda agama. Saya tidak mempermasalahkan seperti apa teman saya menjalankan ajaran agamanya. Saya berusaha untuk menghormati dan menghargai agama yang mereka anut. Saya ikut juga merayakan lebaran, natal, paska, imlek dan waisak sebagai rasa hormat saya terhadap teman – teman dan keluarga saya yang merayakan. Saya merayakannya dengan berkunjung ke rumah teman yang sedang berhari raya atau ikut acara bertukar kado yang sering di lakukan di kampus. Tak hanya saat hari raya besar tapi juga setiap hari, saat kegiatan latihan paduan suara atau diskusi atau rapat sedang berlangsung, tiba saat sholat maka kita istirahat sebentar untuk memberikan kesempatan kepada teman yang ingin beribadah. Dari hal itu saya sering berpikir alangkah indah keberagaman dalam perdamaian dan saya bersyukur dilahirkan di Indonesia.
Hal yang sama juga disampaikan Astuti (2012) untuk sila kemanusian yang adil dan beradab yang bermakna bahwa bangsa Indonesia menempatkan manusia sesuai dengan harkat dan martabatnya  yang sama di depan hukum. Hal ini sesuai dengan sifat universal bahwa kemanusian dimiliki oleh semua bangsa yang juga harus diterapkan di Indonesia. Persamaan di depan hukum berarti bahwa semua warga negara tidak memandang status sosialnya, tetap memiliki hak yang sama di depan hukum. Namun berbeda dengan kasus kecelakaan yang dialami oleh anak Menko Perekonomian Hatta Rajasa, Muh. Rasyid yang menewaskan dua penumpang dan tiga lainnya luka – luka, namun sayangnya kasus ini berakhir dengan perdamaian (kompas, 2013). Walaupun pihak korban mendapat santunan dari keluarga Hatta Rajasa, tapi kenapa Rasyid tidak diproses secara hukum yang berlaku di Indonesia. Apakah karena uang, pihak penegak hukum tidak dapat memproses kasus ini? hal inilah yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan sila kedua Pancasila ini.
Masih banyak lagi nilai kemanusian yang terabaikan di negeri ini, seperti anak usia sekolah seharusnya belajar di sekolah dan bermain dengan teman sebayanya tapi harus mengamen atau mengasong di lampu merah dan tempat umum. Tidak jarang kita dengar kabar berita seorang ibu yang mengalami depresi akibat kesulitan ekonomi, kemudian bunuh diri setelah membunuh anak kandunganya juga. Hal ini menunjukkan bahwa kesejahteraan sosial yang belum terjamin menyebabkan hilangnya rasa kemanusian yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia.
Dalam membantu dari segi kemanusian juga perlu diperhatikan. Sering saya lihat orang – orang memberikan bantuan berupa materi seperti uang dan bahan pokok. Tapi menurut saya itu hanya bersifat sementara dan cepat habis. Bahkan itu membuat masyarakat terbiasa menerima bantuan dan tidak mau berusaha sendiri. Mereka tak merasa malu jika mendapat bantuan dari orang lain dan seolah – olah itu adalah hak mereka sebagai pihak yang membutuhkan bantuan. Memberikan bantuan itu tidak dilarang dan sangat mulia, tapi akan lebih baik hal itu juga diikuti dengan pemberian soft skill yang juga bermanfaat bagi masyarakat kurang mampu. Sama dengan yang saya alami selama menjadi relawan mengajar di salah satu sekolah alternative untuk anak jalanan di Cempaka Emas. Suatu hari perkampungan anak jalanan tempat saya mengajar kebakaran. Banyak bantuan makanan, bahan bangunan, pakaian dan perabotan rumah tangga lainnya berdatangan. Saya pun ikut sibuk membaginya dan masyarakat korban kebakaran berebut untuk mendapatkannya. Besoknya saya dan teman – teman ke tempat itu lagi untuk mengajar anak – anak jalanan yang rutin diadakan di tengah tenda pengungsian. Seorang ibu bertanya kepada teman saya “ kenapa hari ini tidak ada pembagian beras atau sembako? ”, teman saya pun menjelaskan kepada ibu tersebut bahwa hari ini memang tidak ada sumbangan yang bisa dibagikan. Hal yang sama juga terjadi pada minggu berikutnya. Dari kejadian itu saya berpikir jika masyarakat tidak hanya membutuhkan beras atau sembako tapi kemampuan untuk mendapatkan sendiri bantuan materi itu. Karena jika hanya menunggu bantuan itu datang tentu tidak akan ada yang bisa terus memberikan bantuan.
Demikian pula pada sila ketiga persatuan Indonesia dituliskan oleh Astuti (2012), yang bermakna persatuan itu bulat, satu dan tidak terpecah atau jika dikaitkan dengan maknanya pada pengertian modern disebut dengan nasionalime. Keadaan Indonesia yang majemuk memang harus bersatu untuk bisa hidup berdampingan dengan berbagai perbedaan yang ada. Walaupun hal ini sudah ada dalam Pancasila, tapi masyarakat Indonesia masih sering lalai dengan hal tersebut. Hal ini dapat dilihat dari berbagai konflik antar etnis di beberapa daerah di Indonesia.
Berita kerusuhan antar etnis yang terjadi di Lampung beberapa waktu lalu adalah contoh nyata lemahnya persatuan bangsa Indonesia. Perang saudara tersebut hanya berawal dari masalah anak muda yang seharusnya bisa diselesaikan dengan jalan hukum . Tapi pecah menjadi kerusuhan selama tiga hari yang memakan puluhan korban jiwa dan luka – luka, ditambah lagi dengan ratusan rumah dan sekolah terbakar . Kerusuhan antara suku Bali dan Lampung itu berakhir dengan perjanjian damai kedua belah pihak (Kristanti, 2012). Saya tidak dapat membayangkan apa terjadi dengan saudara kita di Lampung itu. Rasa kecewa dan prihatin yang mendalam saya pernah rasakan saat mendengar berita kerusuhan Lampung. Ternyata pertikaian antar etnis masih belum habis ceritanya di tanah Nusantara ini. Oleh karena itu, penting bagi rakyat Indonesia di mana pun berada di Indonesia harus bisa saling menghormati dan bertoleransi dengan suku, agama atau ras lain yang juga saudara kita di Indonesia.
Demikian juga dengan Sila kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksaan dalam permusyawaratan /perwakilan yang bermakna bahwa bangsa Indonesia menganut sistem demokrasi (Astuti, 2012). Namun ada satu hal yang membedakan demokrasi di Indonesia dengan Demokrasi barat yaitu pada permusyawaratan yang mengacu pada pengambilan keputusan secara bulat. Sedangkan kebijaksaan itu merupakan suatu prinsip bahwa yang diputuskan memang bermanfaat bagi kepentingan rakyat. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa makna yang paling melekat pada sila ke empat adalah nilai – nilai gotong royong dan musyawarah mufakat yang mementingkan kepentingan bersama.
Namun berbeda halnya dengan beberapa wakil rakyat yang dipilih langsung oleh rakyat yang belum bisa sepenuhnya mewujudkan apa yang diinginkan oleh rakyat. Bahkan menggunakan uang rakyat untuk kepentingan pribadi yang tentunya merugikan masyarakat itu sendiri. Seperti yang disampaikan oleh Revida (2003) korupsi adalah parasit sosial yang mengganggu pemerintahan dan penghambat pembangunan pada umumnya. Bagaimana tidak, uang yang seharusnya digunakan untuk pembangunan dan kesejahteraan rakyat habis digunakan untuk kepentingan pribadi. Hal ini tentu tidak sesuai dengan makna nilai – nilai pancasila pada sila keempat yang mengedepankan kepentingan orang banyak diatas kepentingan pribadi.
Korupsi yang sudah dilakukan oleh beberapa pejabat negara tersebut hanya sebagian dari korupsi yang sering terjadi di Indonesia. Sebenarnya efek globalisasi yang menyebabkan masyarakat cenderung lebih mementingkan kepentingan pribadi tersebut bukan hanya terjadi pada pemerintah tapi juga dalam kehidupan masyarakat Indonesia kebanyakan. Seperti yang diceritakan oleh Miss Desiree pada saat kelas Affective Education 21th Century Learning tahun lalu, beliau melakukan percobaan dengan menyebarkan jepitan rambut atau hiasan di sekitar kelas yang beliau ajar dan berharap ada yang mengembalikannya pada kotak lost and found yang ada di sekolah tersebut. Namun hasilnya tidak ada satu pun siswa di kelas tersebut yang mengembalikannya. Hal ini menjadi pekerjaan rumah yang tidak mudah bagi orang tua, guru dan saya sebagai calon guru untuk mengenalkan siswa bahaya korupsi yang berawal dari ketidakjujuran dan mengambil hak milik orang lain secara diam - diam. Ditambah lagi dengan adanya contoh korupsi yang telah dilakukan oleh pejabat neraga terdahulu. Untuk memberikan pemahaman yang lebih mudah kepada siswa tentang korupsi nantinya, perlu ditegaskan bahwa pelaku tindak korupsi harus dihukum berat. Jika tidak, hal ini akan berdampak pada jiwa generasi muda selanjutnya.
Sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia yang bermakna kemakmuran yang merata bagi rakyat Indonesia yang dinamis dan meningkat. Adanya suatu persamaan dan saling menghargai karya orang lain Astuti (2012) . Berlaku adil terjadi apabila sesorang memberikan dan mendapatkan sesuatu seuai dengan haknya. Sila kelima inilah yang paling sulit untuk diwujudkan oleh pemerintah saat ini. Keadaan geografis Indonesia yang berbentuk kepulauan menyebabkan sulitnya memantau keadaan setiap daerah di Indonesia. Sehingga setiap kebijakan yang dilakukan oleh pemerintah untuk setiap daerah harus dilakukan secara bertahap dan tidak bisa dilakukan secara serentak.  Namun seharusnya pemerintah sudah dapat mengantisipasinya dari dulu dan hal ini bukanlah menjadi alasan utama dalam mewujudkan sila kelima ini.
Namun yang lebih terlihat tentang ketidakadilan dalam pelaksanaan pancasila, sila kelima ini adalah dalam hal pendidikan dan kesejahteraan sosial. Mengapa negara yang kaya akan kekayaan alam ini tidak mampu membiayai pendidikan yang sangat menentukan masa depan bangsa ini. Jangankan di daerah pedalaman Papua, bangunan sekolah yang rusak juga masih kita temukan di Jakarta. Banyak anak putus sekolah karena harus membantu orang tuanya bekerja. Hal ini menunjukkan bahwa kesejahteraan masyarakat masih sangat rendah dan hal ini sangat berpengaruh terhadap pendidikan anak bangsa. Tidak ada ketegasan dari pemerintah terhadap pendidikan anak putus sekolah tersebut.
Dapat kita lihat dari data Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia pada tahun 2012 masih ada sekitar 10, 507 juta jiwa penduduk yang berada pada garis kemiskinan di Indonesia. Hal ini terbukti dari masih  ditemukannya pengemis dan juga anak jalanan yang tidak sekolah berkeliaran di lampu merah dan tempat umum lainnya. Permukiman kumuh dan pengangguran yang memicu kriminalitas masih banyak kita lihat di beberapa daerah di sekitarnya.
Setelah melihat seperti apa pengimplementasian Pancasila pada negeri ini, dapat saya katakana bahwa peimplemantasian tersebut masih berupa wacana yang belum terwujud pada beberapa sendi kehidupan masyarakat. Begitu juga dengan saya, sebagai warga negara saya belum maksimal dalam mengamalkan nilai – nilai Pancasila tersebut kehidupan sehari - hari. Suatu pembelajaran yang berharga saya dapatkan dari kelas Pancasila beberapa waktu lalu tentang kalau bukan kita yang peduli dengan masa depan pemerintahan bangsa ini siapa lagi. Jika semua orang pintar negeri ini memalingkan muka terhadap kondisi negeri ini, maka yang akan menjadi pemimpin bangsa ini adalah generasi mental tempe yang hanya bisa menghabiskan uang rakyat untuk dikorupsi. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memberikan kontribusi pada negeri ini sebagai anak bangsa. Kontribusi yang diberikan harus dimulai dari sekarang dan tak hanya menjadi wacana belaka.
Pengamalan nilai – nilai Pancasila memang banyak menuai masalah baik dilakukan oleh masyarakat kecil hingga pejabat negara yang seharusnya memberikan contoh. Untuk itu perlu dilakukan pemberdayaan kembali Pancasila yang merupakan dasar falsafah bangsa kita ini. Seperti yang dituliskan oleh Herdiawanto & Hamdayama, (2010) pemberdayaan Pancasila haruslah mengenalkan dan memberdayakan Pancasila sebagai manifestasi kepribadian bangsa yang sesuai dengan isi Pembukaan UUD 1945 yang dieksplorasi bersifat realitas, idealis, dan fleksibilitas. Andai apa yang menjadi tujuan para pendiri bangsa kita 68 tahun yang lalu mampu diwujudkan oleh bangsa Indonesia, mungkin kemiskinan, keterbelakangan dan konflik antar ras, suku dan agama bisa terhindar. Namun semua yang sudah terjadi bukan untuk disesali tapi harus dijadikan motivator untuk memberdayakan Pancasila kembali dalam kehidupan sehari – hari yang bisa kita mulai


Daftar Pustaka
Astuti, N. (2012). Pancasila dan piagam madinah: konsep, teori dan analis mewujudkan masyarakat madani Indonesia. Jakarta, Indonesia: Media Bangsa.
 Badan Pusat Statistik (BPS) Indonesia. Data jumlah masyarakat miskin di Indonesia tahun 2012 diunduh pada tanggal 9 Mei 2013 dari website: http://www.bps.go.id/tab_sub/view.php?tabel=1&id_subyek=23&notab=1
Herdiawanto, H. & Hamdayama, J. (2010). Cerdas, kristis, dan aktif berwarganegara:pendidikan kewarganegaraan untuk perguruan tinggi hlm. 31-42. Jakarta, Indonesia: Erlangga.

Kristanti, E. Y. (2012). Akhiri kerusuhan, 2 desa di Lampung sepakati 10 butir perdamaian.  Diunduh pada tanggal 9 Mei 2013 dari website: http://nasional.news.viva.co.id/news/read/364768-akhiri-kerusuhan--2-desa-di-lampung-sepakati-10-butir-perdamaian

Revide, E. (2003). Korupsi di Indonesia:masalah dan solusinya. Diunduh pada tanggal 9 Mei 2013 dari situs repository dengan website: http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/3800/1/fisip-erika1.pdf

Iqbal, M. (2013). Bedakan kasus Hatta Rajasa dengan  kasus Laka Lantas yang lain. Diunduh  pada tanggal ( Mei 2013 dari situs Kompas website: http://hukum.kompasiana.com/2013/01/13/bedakan-kasus-anak-hatta-rajasa-dengan-kasus-laka-lantas-yang-lain-525025.html